CINTA dan RESPEK dalam PERNIKAHAN

Istri itu butuh dicintai, ingin dicintai, dan mengharapkan dicintai;

banyak suami gagal memenuhi kebutuhan ini.

Suami itu butuh direspek, ingin direspek, dan mengharapkan direspek;

banyak istri gagal memenuhi kebutuhan ini.

Sering kali masalah utama pasangan suami-istri yang datang menemui saya adalah tidak adanya titik temu untuk kedua belah pihak. Suami dan istri, masing-masing mempunyai tuntutan yang tinggi. Istri berkata, “Dia tidak mencintai saya.” Dan dia berusaha untuk mengubah suaminya agar mencintainya dengan cara mengeluh dan mengritik seperti: sering pulang malam, tidak pernah membantu di rumah, tidak memperhatikan anak, tidak membelikan hadiah buat keluarga dll.

Tetapi tidak hanya keluhan sang istri saja yang saya dengar, sang suami juga. Umumnya pihak suami tidak berbicara banyak tapi lebih banyak berpikir. Seringkali jika suami tersebut ditanya, ”Apakah istrimu mencintaimu?” jawabnya, “Oh, ya tentu!” Ketika ditanya, “Apakah istrimu menyukaimu?” Jawabannya, “No”. Biasanya kata “menyukai” ini diterjemahkan tidak menghormati oleh suami. Dulu waktu pacaran dilihat sebagai “hero”, sekarang kok berubah! Sang suami mulai berusaha untuk mengubah istrinya, dengan memotivasi agar lebih menghormati suami, dengan cara mengurangi perhatian dan cintanya.

Dari problem ini kita dapat melihat bagaimana terjadinya lingkaran yang menghubungkan antara: “tanpa cinta dari suami membuat istri tidak respek”, dan “tanpa respek dari istri membuat suami tidak mencintai”, demikian seterusnya menjadi lingkaran tanpa akhir.

Jika suami dan istri dapat berkomitmen pada kebutuhan utama pasangannya yaitu: unconditional love for her and unconditional respect for him, maka mereka akan memulai langkah yang tepat untuk mengubah lingkaran negatif tersebut menjadi lingkaran positif. Hal ini tidak mudah dan tidak dapat berubah begitu saja tanpa kemauan/usaha dan kesabaran, karena kita akan terus beresiko kembali pada lingkaran negatif tersebut. Selama 25 tahun perkawinan, saya masih terus harus berusaha untuk mengontrol lingkaran ini.

Masalah utama dalam lingkaran negatif ini adalah tidak adanya komunikasi yang baik. Kedua belah pihak tidak tahu bagaimana cara mengirim dan menerima pesan. “apa yang saya katakan, tidak sama dengan yang kamu dengar” dan “apa yang kamu mengerti, tidak sama dengan yang saya maksud”.

Dalam bukunya, Love and Respect, Dr.Emerson Eggerichs, memberikan tips kepada suami istri, beberapa di antaranya:

  1. Selalu bertanya kepada dirimu:

(Suami): Apakah yang akan saya katakan kepadanya akan membuat dia merasa tidak dicintai?

(Istri): Apakah yang akan saya katakan kepadanya akan membuat dia merasa tidak direspek?

  1. Hal-hal yang harus diingat:

(Suami): Pada saat istri Anda mengritik atau marah, sebenarnya yang dia harapkan adalah cinta dari Anda, dan sesungguhnya dia tidak bermaksud untuk tidak respek pada Anda.

(Istri): Pada saat suami Anda marah dan kasar, sebenarnya dia membutuhkan respek dari Anda, dan dia tidak bermaksud tidak mencintai.

(Suami): Cara terbaik untuk memotivasi istri Anda adalah dengan memenuhi kebutuhannya akan cinta.

(Istri): Cara terbaik untuk memotivasi suami Anda adalah dengan memenuhi kebutuhannya akan respek.

  1. Hal yang harus diperhatikan dalam mengkomunikasikan perasaan Anda dan memulai diskusi:

(Istri): Jangan pernah berkata, “Kamu tidak mencintai saya”, tetapi katakanlah, “Saya merasa kurang dicintai, apakah saya telah menimbulkan perasaan tidak respek kepadamu?, jika ya, maafkan saya. Bagaimana agar saya dapat lebih respek kepadamu?”

(Suami): Jangan pernah berkata, ”Kamu tidak respek pada saya”, tetapi katakanlah, “Saya merasa kurang direspek, Apakah saya kurang mencintai? Jika ya, maafkan saya, Bagaimana agar saya dapat lebih mencintaimu?”

  1. Larangan:

(Suami): Jangan pernah berkata, “Saya tidak akan mencintai wanita itu sampai dia mulai respek terhadap saya.”

(Istri): Jangan pernah berkata, “Saya tidak akan respek pada pria itu sampai dia mulai mencintai saya.”

Mengerti bahwa kebutuhan utama istri Anda adalah dicintai, dan kebutuhan utama suami Anda adalah direspek, dan memberikannya, itulah kunci menuju kehidupan pernikahan yang lebih harmonis dan bahagia.

-Lina Efendi, M.Couns

PACFA Reg.Provisional

Ilusi Pernikahan

“Anak menjadi anak yang bagaimana, dia hanya merespons relasi suami-istri orangtuanya.”

Demikian penjelasan Paul Gunadi dalam kuliah intensif Family Therapy yang aku hadiri. Oh, untuk pertama kalinya aku jadi mengerti: mengapa orangtua yang sama membesarkan beberapa anak, dan mereka menjadi anak yang berbeda satu dengan yang lainnya? Jawabannya bagaimana masing-masing anak itu merespons relasi suami-istri kedua orangtuanya, maka dia akan menjadi anak yang demikian. Betapa pentingnya relasi suami-istri orangtua, dan keserasian itu perlu dibina dari awal, dengan gugurnya ilusi pernikahan.

 

Memulai Pernikahan Dari Keserasian?

Menurut kamus bahasa Inggris Webster’s New World Dictionary, kata illusion (Ind. “ilusi”) berarti: (a) gagasan atau konsep yang keliru, dan (b) penampakan atau gambaran yang tidak nyata atau menyesatkan. Istilah “ilusi pernikahan” menohok telinga saya tatkala saya sedang duduk mengikuti ceramah yang disampaikan oleh Archibald Hart, mantan dekan fakultas psikologi Fuller Theological Seminary.

Dr. Hart menjelaskan bahwa pada umumnya kita memasuki mahligai pernikahan dengan satu ilusi, yakni bahwa kita merupakan pasangan yang serasi. Setelah bertahun- tahun menikah, barulah kita menjadi tidak cocok karena perbedaan- perbedaan yang kita miliki.

Bagi Dr. Hart, di sinilah letak ilusi pernikahan itu. Sesungguhnya kita memulai pernikahan dari ketidakserasian dan bukan dari keserasian. Tugas kita justru adalah menyerasikan diri dengan pasangan kita dan proses ini berlanjut terus-menerus.

Keserasian yang kita nikmati pada kurun pranikah sebenarnya sebuah ilusi belaka dan bersifat dangkal. Ibarat seorang anak yang ingin dibahagiakan, demikian pulalah kita pada waktu menikah. Tersembunyi dalam hati kita seuntai dambaan yang pada intinya bersumber dari kebutuhan- kebutuhan pribadi kita. Pasangan kita adalah orang yang paling tepat bagi kita karena menurut kita, ia dapat memenuhi kebutuhan itu.

Pernikahan itu sendirilah yang akhirnya akan membangunkan kita dari mimpi ilusi ini. Sewaktu kita menyadari betapa banyaknya perbedaan di antara kita, yang terjadi bukanlah karena kita semakin menjadi tidak serasi, melainkan karena kita semakin diperhadapkan dengan realitas kehidupan itu sendiri. Memang kita tidak serasi dalam arti kita adalah dua manusia yang berlainan. Tugas utama kita dalam pernikahan ialah belajar menyerasikan diri dan ini harus dilakukan berulang kali.

Ilusi pernikahan bisa mengambil bermacam-macam bentuk, namun pada umumnya ilusi itu berkenaan dengan kebutuhan pribadi kita. Misalnya kita beranggapan (dan berharap) bahwa pasangan kita mengerti (dan akan terus mengerti) kita. Sewaktu kita sedih, ia langsung dapat memahami kebutuhan kita akan sentuhan yang sensitif dan penghiburan yang hangat.

Atau, kita menyadari kelemahan kita yaitu cepat naik darah alias pemarah. Kita pun berasumsi (dan berharap) bahwa pasangan kita mengerti sifat pemarah kita ini dan akan selalu mengalah atau setidak-tidaknya ia akan menahan emosinya tatkala kita sedang marah. Di sini yang kita butuhkan ialah seorang yang dapat mengendalikan emosi marah kita dan sekaligus bisa memberikan kita ruang gerak yang luas untuk mengumbar nafsu marah sewaktu kita membutuhkannya.

Ilusi bukan kenyataan! Ilusi membuai kita dalam kehangatan; kenyataan membuat kita menggigil kedinginan.

Saya kira kita tidak dengan sengaja menciptakan ilusi pernikahan. Saya pikir pada umumnya kita terperangkap masuk ke dalam ilusi. Alasannya sederhana sekali. Kita adalah makhluk yang berhasrat dan semua hasrat kita memiliki satu kesamaan yakni kebahagiaan.

-Paul Gunadi, PARAKALEO, 13.04.2011

Ikuti kelanjutannya…

:)  Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)