Memilih

Mengambil keputusan adalah salah satu tugas yang tidak mudah dalam kehidupan.

“Perlu waktu, bisa cepat bisa lama,” kata mendiang HA Oppusunggu, di kantornya siang itu. Dia menatapku, dengan senyumnya yang khas tersungging. Itu komentarnya setelah dengan tenang mendengarkan aku yang sedang menghadapi beberapa pilihan pekerjaan.

Aku membaca beberapa buku yang bagus untuk menolongku bisa mengambil keputusan terbaik. Dan aku ingat sebuah pengalaman menarik semasa kuliah di Yogya.

Sore itu aku diantar teman ke rumah dosen waliku. Profesor berkebangsaan Belanda itu membuka pintu rumahnya, dan mempersilakan aku duduk. Setelah duduk, dengan ramah beliau menanyakan apa yang dia bisa lakukan untukku. Aku bilang bahwa aku ingin keluar, berhenti kuliah maksudku. Beliau tersenyum menatapku, dan berkata, “Boleh, mau mulai kapan? Besok? Lusa? Tetapi sebelumnya jawab dulu pertanyaan ini: apa yang akan kamu hadapi kalau keluar?”

Aku berpikir sejenak, sambil menatap beliau, aku menjawab, “Oh, pasti orang tuaku sedih dan bertanya mengapa? Kakakku yang mensponsori aku pasti kecewa dan bertanya mengapa? Lembaga yang memberi rekomendasi pasti juga bertanya mengapa? Dan seumur hidupku orang akan bertanya mengapa aku tidak selesai kuliah?”

Beliau tersenyum lebar, lalu berdiri, masuk ke dalam dan kembali dengan selembar kertas kosong dan pensil. Beliau meletakkan kertas itu di meja tamu di depanku, lalu dengan pensil di tangannya beliau membuat tanda silang di tengah-tengah, lalu menuliskan: orang tua, kakak, lembaga, orang-orang, di sekeliling tanda silang itu. Beliau menjelaskan, “Pengambilan keputusan yang terbaik adalah, kalau kamu berada di pusat pengambilan keputusan itu, keputusan yang terbaik buat kamu, bukan buat orang tuamu , atau kakakmu, atau lembaga, atau orang lain. Karena yang menghadapi semua resiko keputusan itu adalah kamu, bukan orang lain.”

Aku mengangguk, mengerti, aku menengadah menatap beliau yang menatapku hangat disertai senyumnya yang khas dan ramah. Aku tersenyum, mengangguk. Aku tidak jadi keluar, aku menyelesaikan kuliahku dan diwisuda.

Sejak itu, setiap kali aku mengambil keputusan di mana aku menjadi pusat pengambilan keputusan itu, aku takkan pernah menyesal. Dan dalam perjalanan hidup aku belajar, dalam proses pengambilan keputusan aku bertanya kepada Allah, “Apa rencana-Mu bagi hidupku?”

Dalam relasi orang tua dan anak, pengambilan keputusan selama anak belum akil balig memang terletak pada orang tua, karena anak masih di bawah pengasuhan orang tuanya. Namun dalam pengambilan keputusan terbaik untuk anak itu, apakah anak tetap menjadi pusat pengambilan keputusan, yaitu yang terbaik untuk anak? Karena anak yang akan menjalani resiko keputusan itu, lebih dari pada orang tuanya.

Allah memiliki rencana yang khusus dan istimewa bagi setiap anak, sebelum dunia diciptakan, dan sebelum anak itu dilahirkan. Jadi, dalam proses pengambilan keputusan itu tanyakan, “Apa rencana Allah bagi anakku? Apakah keputusan ini sesuai dengan rencana Allah bagi anakku?” Dengan demikian, orang tua terhindar dari kekeliruan memaksakan dan menjalankan rencana-rencananya terhadap anak, atas nama “maksudnya baik”. Juga terhindar dari konflik orang tua-anak yang tidak perlu terjadi.

Ketika anak bertanya kepada orang tuanya, dan menanti keputusan, merupakan pilihan bijak bila orang tua mengajak anak untuk berdoa dan bertanya kepada Allah, “Apa rencana-Mu bagiku?” Itu menolong dan melatih anak untuk dapat mengambil keputusan terbaik sesuai rencana Allah yang khusus baginya. Ini menjadi modal kehidupan yang tak ternilai bagi anak, seumur hidupnya.

:)  Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)

Maksudnya baik

Jalan ke neraka dilapisi oleh maksud baik.

“Jalan yang dilapisi oleh maksud baik takkan membawa kita ke mana pun,” kata John Townsend setelah mengutip pepatah Inggris di atas, dalam bukunya berjudul “Loving People”.

Saya masih ingat jelas sebuah cerpen berjudul “Maksudnya Baik” yang dimuat di harian “Sinar Harapan” edisi akhir pekan tahun 1970-an, rubrik “Sinar Remaja”. Kisahnya tentang seorang pelukis yang sedang ikut lomba lukis rancangan gedung Balai Kota. Sebagai pengganti yang bagus untuk penghapus lukisan pinsilnya, dia menggunakan roti basi.

Tiap pagi pelukis itu bergegas masuk ke sebuah toko roti kecil, dan berseru, “Roti basi satu.” Gadis penjaga toko roti tersebut dengan sigap menyiapkan, dan pelukis itu bergegas pergi. Sering Gadis itu membayangkan sang pelukis sambil melukis sambil makan, sesekali mencelupkan roti basi itu ke cangkir di dekatnya.

Satu pagi saat pelukis itu masuk ke toko roti, mobil kebakaran lewat, pelukis itu menoleh melihat sebentar. Terdorong oleh maksud baiknya, dengan berdebar-debar cepat-cepat Gadis itu mengoleskan mentega yang lezat di roti basi yang dibeli sang pelukis. Pelukis itu membayar dan membawa roti itu bergegas pergi. Wah, tentu pelukis itu senang menerima kejutan, pikirnya.

Tetapi tak lama berselang, justru dia yang jadi pucat pasi terkejut setengah mati. Pelukis itu kembali dan masuk toko roti dengan marah-marah, lukisannya yang nyaris selesai itu rusak karena roti bermentega itu! Maksudnya baik…

Sejak SD hingga SMA, saya tak pernah ikut Pramuka, pergi berkemah atau study tour, atau sekedar main ke rumah teman… Penjelasan dan alasan Ayah dan Ibu selalu diakhiri dengan, “Maksudnya baik”. Itu membuat kami, anak-anaknya, menerima keputusan mereka tanpa syarat.

Mengapa? Karena anak tidak ingin mendapat label: “kamu suka membantah”, atau “kamu tidak mau mendengarkan”, atau “kamu tidak taat”.

Budaya Indonesia penuh maksud baik. “Tidak, terima kasih.” Sekali saja, tak cukup. Orang akan menawarkan dan mendesak berulang kali, atas nama maksud baik.

Bila dengan halus dan dengan segala keterangan tetap pesannya, “Tidak, terima kasih.” Orang akan sakit hati dan kecewa, seolah tak paham… mengapa  dia “maksudnya baik” tetapi tidak diterima dengan baik? Relasi dan komunikasi jadi rusak, karena “maksudnya baik” pihak yang satu, tidak bisa ketemu, dan tak sama dengan “maksudnya baik” pihak yang lainnya.

Bila ini terjadi dalam relasi orang tua-anak, mendengarkan dengan hati, isi hati dan pikiran anak, adalah langkah bijak. Memahami dengan baik lalu memberi pilihan beserta penjelasan konsekwensi dari masing-masing pilihan, sesuai level usia anak, menolong anak mengambil keputusan yang mendewasakan. Dia yang menjalani konsekwensi keputusannya. Bukan kita.

:)  Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)