every book published is a blessing to many

GEMAR MENGENAL ALLAH? BAGAIMANA CARANYA? TEMUKAN DI BAHAN IBADAH ORANGTUA-ANAK INI!

15 HARI MEMBAHAS 15 KUNCI GEMAR MEMBACA FIRMAN ALLAH UNTUK MENGENAL ALLAH. 

TIAP HARI ADA KOMIK MENARIK DAN LANGKAH-LANGKAH PENERAPAN DAN ADA KUNCI PENGINGATNYA

CARI DAN BUKA KUNCI JAWABANNYA!

COCOK UNTUK BAHAN RETRET KELUARGA DAN BAHAN TINDAK LANJUT KAMP/SIL ANAK

LANGSUNG HUBUNGI KAMI  atau Distributor kami.

HARGA KHUSUS MEI 2012 >>> Rp 5.000,-/eks


IMAN? APA ITU DAN BAGAIMANA? TEMUKAN DI BAHAN IBADAH ORANGTUA-ANAK INI!

15 HARI MEMBAHAS 15 ASPEK IMAN DAN BAGAIMANA BERIMAN. 

TIAP HARI ADA KOMIK MENARIK DAN LANGKAH-LANGKAH PENERAPANNYA

CARI DAN TEMUKAN SENDIRI JAWABANNYA!

COCOK UNTUK BAHAN RETRET KELUARGA DAN BAHAN TINDAK LANJUT KAMP/SIL ANAK

LANGSUNG HUBUNGI KAMI atau Distributor kami.

HARGA KHUSUS MEI 2012 >>> Rp 5.000,-/eks


ADA PENGHARAPAN bagi yang sakit dan yang merawat

Pengharapan adalah sebuah kata indah yang dibutuhkan setiap manusia untuk tetap bertahan hidup.
Buku yang ditulis oleh seorang survivor kanker ini patut dibaca, karena dapat membangkitkan semangat bagi setiap pembacanya, tidak hanya bagi pasien kanker.

dr. Rebecca N. Angka, M. Biomed.
Koordinator support group kanker  Yayasan Kanker Indonesia, Jakarta

Hope is a truly beautiful word.  Every human being needs hope in order to live well and stay well.
This book, written by a cancer survivor, is a must read.  It will ignite hope and enthusiasm for living in the hearts of all readers, not just in the hearts of cancer sufferers.

Dr Rebecca N. Angka, M.Biomed.
Coordinator of the Indonesian Cancer Council’s support group (Jakarta)


						

Hello!

‎The godly walk with integrity; blessed are their children who follow them.

-Proverbs 20:7 (NLT)-

Orang yang takut akan Tuhan, jalan dengan integritas;

diberkatilah anak-anaknya yang mengikutinya.

Direct your children onto the right path,
and when they are older, they will not leave it.

-Proverbs 22:6 (NLT)-

Arahkan anak-anakmu ke jalan yang tepat,

dan kala mereka makin dewasa, mereka takkan meninggalkannya.

Thank you for visiting us.


ADA PENGHARAPAN bagi yang sakit maupun yang merawat!


ANAK MENYUKAI TANGAN DARIPADA CAMBUK

Bagaimana membuat tuntutan sebagai tangan yang menuntun anak maju selangkah demi selangkah?

Ada empat faktor yang harus dipenuhi sebelum memberi tuntutan kepada anak. Ikuti kelanjutannya berikut ini…

BOLEHKAH MENUNTUT ANAK?
Ketiga, harus realistik dan sepadan dengan kemampuannya.
Untuk memacu prestasi, tuntutan yang diberikan seyogyanya sedikit di atas kemampuan anak. Tuntutan yang di bawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya, karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan dirinya. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak, akan mengecilkan semangatnya. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam batas kemampuannya. Jika tidak, ia justru tidak akan berkemauan untuk menggapainya.

Saya sering melihat ada dua kesalahan yang umum dilakukan oleh orangtua. Pertama, orangtua menuntut anak menjadi seperti dirinya dan kedua, orang tua menuntut anak menjadi pelengkap kekurangannya. Kesalahan pertama acapkali diperbuat oleh orangtua yang bisa bermain piano dan cenderung menuntut anak bermain piano pula. Masalahnya adalah, tidak selalu anak mewarisi bakat orangtua, dan tidak semua anak yang mempunyai minat yang sama dengan orangtuanya. Kalaupun anak menyukai piano, itupun tidak berarti bahwa ia akan dapat bermain sebaik orangtua. Adakalanya orangtua menuntut anak untuk menjadi semahir dirinya. Sekali lagi problemnya ialah, anak belum tentu memiliki tingkat kepandaian yang sama dengan orangtua.

Kesalahan kedua, acap terjadi pada orangtua yang merasa diri kurang atau ada cacatnya. Anak akhirnya menjadi penyambung kekurangannya, agar keinginannya yang belum tercapai bisa diwujudkan oleh anak. Misalnya jika orangtua berangan-angan menjadi atlet nasional, iapun akan memaksa anak menjadi atlet nasional. Masalahnya adalah, belum tentu anak mempunyai kemampuan untuk itu. Jadi yang penting ialah memahami kemampuan dan minatnya. Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang realistik; tuntutan yang tidak realistik justru akan menciptakan frustasi pada diri anak.

Keempat, harus memberi ruangan untuk gagal.
Pada dasarnya kita adalah orang yang sulit menoleransi kegagalan, karena kegagalan dengan mudah dapat membangkitkan perasaan-perasaan masa lalu kita yang pahit. Kegagalan cenderung mengingatkan kita akan kekurangan-kekurangan yang telah kita coba perbaiki dengan susah payah. Kegagalan anak seringkali mempengaruhi penghargaan diri dan konsep diri orangtua. Kegagalan anak seakan mencoreng konsep dan penghargaan diri yang sebelumnya dimiliki orangtua. Itulah sebabnya tidak mudah bagi orangtua menerima kegagalan anak. Kegagalan mengecewakan hati orangtua karena anak tidak dapat memenuhi tuntutan atau harapannya.

Tuntutan bukanlah dan tidak seharusnya menjadi standar ketidaksempurnaan, karena anak bukanlah anak yang sempurna. Jadi anakpun mesti diberi kemungkinan untuk gagal dalam upayanya memenuhi tuntutan orangtua. Kerelaan orangtua untuk menerima kegagalan anak akan membuatnya rileks, dan sikap rileks ini justru akan membuatnya lebih kreatif. Anak akan dapat mengupayakan prestasinya secara lebih tenang karena tidak dikejar-kejar oleh rasa takut gagal. Anak perlu menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dan konsekuensi dari hidup, serta yang penting adalah bagaimana menerima dan mengoreksi diri, bukan menyangkali atau menyesali diri tanpa kesudahan. Anak harus mengetahui bahwa yang terpenting adalah usahanya, bukan hasil akhirnya, dan bahwa selama ia telah berusaha sebaik mungkin, kegagalan akan diterima dengan lapang dada oleh orangtuanya.

Kesimpulan
Tuntutan perlu diberikan setelah keempat hal ini kita jalankan. Tanpa kehadiran keempat faktor ini, tuntutan akan menjadi cambuk belaka; membuat anak maju selangkah, namun mengutuki setiap cambukan yang diterimanya. Sebaliknya, keberadaan keempat hal ini akan membuat tuntutan sebagai tangan yang menuntun anak maju selangkah demi selangkah. Saya kira anak akan jauh lebih menyukai tangan daripada cambuk.

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

:) Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)


BOLEHKAH MENUNTUT ANAK?

Membesarkan anak butuh hikmat, seberapa mengerem dan seberapa mengegasnya, juga kapan mengerem dan kapan mengegasnya…

Sungguh benar kalimat yang diucapkan Paul Gunadi kepada saya di sesi konseling itu, dan hikmat sangat dibutuhkan orangtua dalam menjawab pertanyaan berikut…

BOLEHKAH MENUNTUT ANAK?

Pelajaran pertama dan mungkin terpenting dalam mengendarai sepeda ialah: bagaimana menjaga keseimbangan tubuh kita di atas batang-batang besi beroda dua itu. Saya kira membesarkan anak dapat diibaratkan dengan mengendarai sepeda.

Banyak unsur dalam membesarkan anak yang harus ada secara berimbang: “terlalu banyak” atau “terlalu sedikit” biasanya mengakibatkan dampak yang sama-sama negatifnya. Misalnya terlalu sayang dan terlalu protektif dapat membuat anak lemah serta kurang percaya diri. Sebaliknya kurang kasih sayang bisa juga menjadikan anak lemah dan tidak mempunyai keyakinan diri. Demikian pula tuntutan. Terlalu banyak tuntutan membuat anak tertekan, sebaliknya terlalu sedikit tuntutan menjadikan anak terlena.

Saya tidak setuju dengan falsafah pendidikan anak yang menghilangkan segi tuntutan secara total. Tuntutan merangsang pertumbuhan; tanpa tuntutan, anak berkembang bebas tanpa arah dan berhenti bertumbuh. Tuntutan juga bermetamorfosis dalam diri anak, menjadi motivasi dan disiplin yang sangat berfaedah bagi kehidupannya kelak. Namun tuntutan perlu diberikan dengan hati-hati agar berkhasiat maksimal.

Secara spesifik, tuntutan hanya akan efektif bagi pertumbuhan anak bila diiringi oleh unsur atau kondisi tertentu. Bak menanam padi, kita harus menggemburkan tanah dan mengalirkan air dengan teratur. Benih padi sebaik apapun tidak akan tumbuh di tanah yang tandus. Di bawah ini akan saya paparkan empat prinsip yang harus ada bersama dengan tuntutan, agar tuntutan bisa mencapai hasil yang optimal.

Pertama, harus ada kasih dan penerimaan penuh.

Sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih orangtua yang menerimanya secara total. Maksudnya, anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap dikasihi orangtua meski ia belum tentu mampu meraih standar orangtua. Tanpa keraguan anak dapat berkata bahwa cinta kasih orangtua terhadapnya tidak tergantung apakah ia mendapat nilai 9 atau 5. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa orangtua telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan: sebab ia adalah anak yang mereka kasihi.

Sebaliknya tuntutan yang diberikan tanpa landasan kasih dan penerimaan penuh, akan jatuh bagaikan duri yang menusuk kalbu. Tanpa kehadiran kasih dan penerimaan, anak akan cenderung mengaitkan perfoma dengan kasih orangtua. Maksudnya, anak akan berpikir bahwa ia hanya akan dikasihi apabila ia berhasil. Memenuhi tuntutan orangtua, misalnya meraih nilai yang bagus. Juga, tanpa adanya penerimaan dari orangtua, tuntutan akan menjadi dingin dan kehilangan unsur kemanusiaan, sehingga tidak jarang anak akhirnya merespons tuntutan seperti itu dengan penuh kebencian. Anak seolah-olah berseru, “Engkau tak berhak menuntut apapun dariku karena engkau tidak mengasihiku!”

Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan akan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orangtua, bukan untuk mendapatkan kasih orangtua.

Kedua, harus ada target yang spesifik.

Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang berorientasi pada target tertentu. Tidak jarang orangtua melakukan kesalahan yang umum terjadi, yakni menuntut anak menjadi “lebih baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tinggi,” dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas akan membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya. Ia perlu mengerti apa itu yang dituntut orangtua, dengan jelas, agar ia tahu apa itu yang harus dilakukannya.

Mungkin ada di antara kita yang berkata, bukankah target menjadi rajin adalah target yang cukup spesifik dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut? Saya akan memberikan contoh yang berkenaan dengan kehidupan orang dewasa. Pernahkah kita diminta atasan menjadi “lebih giat” bekerja dan kita menjadi bingung dengan permintaannya itu? Kita bingung sebab kita sudah merasa bekerja sebaik-baiknya, dan kita tidak tidak tahu lagi apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi target tersebut. Namun kita akan dapat memahami tuntutan itu dengan lebih jelas, apabila atasan meminta kita menjual produk dua kali lebih banyak, atau menambah jumlah pelanggan tiga kali lipat.

Anak akan lebih memahami tuntutan orangtua, apabila tuntutan itu dijabarkan sespesifik mungkin. Daripada berkata, “lebih rajin dan lebih pintar” mungkin lebih baik kita memintanya menambah jam belajar, atau menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum bermain. Daripada menuntutnya, “berprestasi lebih tinggi,” kita bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah, dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut. Kita bisa menargetkan supaya pada ulangan berikutnya ia mencoba meraih nilai 7. Saya kira anak akan lebih mampu mencapai hasil yang kita inginkan bila ia tahu jelas apa itu yang harus ia lakukan.

    -Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

    Ikuti kelanjutannya…

    :) Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)


CINTA dan RESPEK dalam PERNIKAHAN

Istri itu butuh dicintai, ingin dicintai, dan mengharapkan dicintai;

banyak suami gagal memenuhi kebutuhan ini.

Suami itu butuh direspek, ingin direspek, dan mengharapkan direspek;

banyak istri gagal memenuhi kebutuhan ini.

Sering kali masalah utama pasangan suami-istri yang datang menemui saya adalah tidak adanya titik temu untuk kedua belah pihak. Suami dan istri, masing-masing mempunyai tuntutan yang tinggi. Istri berkata, “Dia tidak mencintai saya.” Dan dia berusaha untuk mengubah suaminya agar mencintainya dengan cara mengeluh dan mengritik seperti: sering pulang malam, tidak pernah membantu di rumah, tidak memperhatikan anak, tidak membelikan hadiah buat keluarga dll.

Tetapi tidak hanya keluhan sang istri saja yang saya dengar, sang suami juga. Umumnya pihak suami tidak berbicara banyak tapi lebih banyak berpikir. Seringkali jika suami tersebut ditanya, ”Apakah istrimu mencintaimu?” jawabnya, “Oh, ya tentu!” Ketika ditanya, “Apakah istrimu menyukaimu?” Jawabannya, “No”. Biasanya kata “menyukai” ini diterjemahkan tidak menghormati oleh suami. Dulu waktu pacaran dilihat sebagai “hero”, sekarang kok berubah! Sang suami mulai berusaha untuk mengubah istrinya, dengan memotivasi agar lebih menghormati suami, dengan cara mengurangi perhatian dan cintanya.

Dari problem ini kita dapat melihat bagaimana terjadinya lingkaran yang menghubungkan antara: “tanpa cinta dari suami membuat istri tidak respek”, dan “tanpa respek dari istri membuat suami tidak mencintai”, demikian seterusnya menjadi lingkaran tanpa akhir.

Jika suami dan istri dapat berkomitmen pada kebutuhan utama pasangannya yaitu: unconditional love for her and unconditional respect for him, maka mereka akan memulai langkah yang tepat untuk mengubah lingkaran negatif tersebut menjadi lingkaran positif. Hal ini tidak mudah dan tidak dapat berubah begitu saja tanpa kemauan/usaha dan kesabaran, karena kita akan terus beresiko kembali pada lingkaran negatif tersebut. Selama 25 tahun perkawinan, saya masih terus harus berusaha untuk mengontrol lingkaran ini.

Masalah utama dalam lingkaran negatif ini adalah tidak adanya komunikasi yang baik. Kedua belah pihak tidak tahu bagaimana cara mengirim dan menerima pesan. “apa yang saya katakan, tidak sama dengan yang kamu dengar” dan “apa yang kamu mengerti, tidak sama dengan yang saya maksud”.

Dalam bukunya, Love and Respect, Dr.Emerson Eggerichs, memberikan tips kepada suami istri, beberapa di antaranya:

  1. Selalu bertanya kepada dirimu:

(Suami): Apakah yang akan saya katakan kepadanya akan membuat dia merasa tidak dicintai?

(Istri): Apakah yang akan saya katakan kepadanya akan membuat dia merasa tidak direspek?

  1. Hal-hal yang harus diingat:

(Suami): Pada saat istri Anda mengritik atau marah, sebenarnya yang dia harapkan adalah cinta dari Anda, dan sesungguhnya dia tidak bermaksud untuk tidak respek pada Anda.

(Istri): Pada saat suami Anda marah dan kasar, sebenarnya dia membutuhkan respek dari Anda, dan dia tidak bermaksud tidak mencintai.

(Suami): Cara terbaik untuk memotivasi istri Anda adalah dengan memenuhi kebutuhannya akan cinta.

(Istri): Cara terbaik untuk memotivasi suami Anda adalah dengan memenuhi kebutuhannya akan respek.

  1. Hal yang harus diperhatikan dalam mengkomunikasikan perasaan Anda dan memulai diskusi:

(Istri): Jangan pernah berkata, “Kamu tidak mencintai saya”, tetapi katakanlah, “Saya merasa kurang dicintai, apakah saya telah menimbulkan perasaan tidak respek kepadamu?, jika ya, maafkan saya. Bagaimana agar saya dapat lebih respek kepadamu?”

(Suami): Jangan pernah berkata, ”Kamu tidak respek pada saya”, tetapi katakanlah, “Saya merasa kurang direspek, Apakah saya kurang mencintai? Jika ya, maafkan saya, Bagaimana agar saya dapat lebih mencintaimu?”

  1. Larangan:

(Suami): Jangan pernah berkata, “Saya tidak akan mencintai wanita itu sampai dia mulai respek terhadap saya.”

(Istri): Jangan pernah berkata, “Saya tidak akan respek pada pria itu sampai dia mulai mencintai saya.”

Mengerti bahwa kebutuhan utama istri Anda adalah dicintai, dan kebutuhan utama suami Anda adalah direspek, dan memberikannya, itulah kunci menuju kehidupan pernikahan yang lebih harmonis dan bahagia.

-Lina Efendi, M.Couns

PACFA Reg.Provisional


BALOK dan SELUMBAR

Apakah penilaian yang tidak tepat terhadap diri sendiri akan mempengaruhi relasi nikah kita? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah, ya.

Ternyata pandangan dan perlakuan kita terhadap diri sendiri mempengaruhi pandangan dan perlakuan kita terhadap pasangan, juga anak.

Berikut ini kelanjutan mengenai beberapa pandangan dan perlakuan terhadap diri dan dampaknya pada keluarga.

Guru dan Murid

Ada sebagian dari kita yang diberkati dengan kecerdasan yang melebihi kecerdasan kakak dan adik kita. Orang tua sangat bangga dengan kita dan mereka tidak segan-segan menunjukkan kebanggaan itu di hadapan orang lain. Di sekolah, kita pun menerima perlakuan yang sama. Prestasi akademik kita di atas rata-rata dan banyak teman yang meminta kesediaan kita untuk menolong mereka. Kadang apa yang guru tidak dapat terangkan dengan jelas, kita bisa menerangkannya dengan lebih jelas kepada teman-teman. Kita adalah anak emas dan kita menikmati status tinggi yang dianugerahkan kepada kita. Banyak hal yang tidak dapat dikerjakan orang, atau kalaupun dikerjakan hasilnya tidak sebaik jika kita yang mengerjakannya. Itu sebabnya kita menjadi rebutan teman untuk dimintai bantuan dan sebagai imbalannya, kita merasa puas melihat rona kagum dan bersyukur di wajah mereka.

Di dalam pernikahan kita pun melestarikan peran sebagai guru, karena “kebetulan” pasangan kita adalah mantan teman yang dulu pun mengagumi kelebihan kita. Ia sering bertanya dan meminta pendapat kita, bahkan dalam mengerjakan tugas, sering kali ia memohon bantuan kita. Sekarang kita mengharapkan perlakuan yang sama. Kita tidak begitu senang bila ia lupa memberikan penghargaan kepada kita, sebab bukankah kita yang telah berjasa besar memikirkan segala sesuatunya untuk kepentingan keluarga?

Selama relasi ini sama seperti sediakala, tidak akan banyak masalah yang muncul. Kita senang menjadi guru dan pasangan kita senang menjadi murid. Celakanya, kita tidak selalu bisa mempertahankan status Quo. Adakalanya pasangan kita mulai berkembang dan menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih kuat (sebab, bukankah kita adalah guru terbaiknya?). Sebagai akibatnya, ia semakin jarang bertanya dan makin sering mengambil keputusan tanpa melibatkan kita. Sikap ini cukup meresahkan sebab tiba-tiba kita menyadari bahwa hilanglah peran dan fungsi kita di keluarga. Zaman keemasan sudah berlalu dan kita berhenti menjadi anak emas. Tidak ada lagi murid dan ini berarti, tidak ada lagi guru. Sama-sama guru dan sama-sama murid.

Klien dan Konselor

Sebagian dari kita dibesarkan dalam rumah yang penuh konflik; orang tua hampir tidak pernah berbicara baik-baik dan pertengkaran menjadi sarana komunikasi. Pada akhirnya kita mengembangkan penilaian diri yang negatif, karena kita beranggapan bahwa kita berasal dari keluarga bermasalah.

Sebagian dari kita yang bertumbuh besar dalam keluarga bermasalah, mengembangkan penilaian diri yang negatif, sebab kita menjadi korban masalah orang tua. Dalam kondisi yang tidak harmonis, orang tua menjadi tidak sabar, dan acap kali merendahkan dan melampiaskan frustrasinya kepada kita. Perlakuan kasar dan melecehkan akhirnya menyerap masuk dan mempengaruhi penilaian diri. Tidak ada lagi yang baik tentang kita, tidak ada yang dapat dibanggakan. Kita melihat diri sebagai barang buangan yang tidak diinginkan orang lagi.

Dalam pergaulan dengan teman, kita cenderung menarik diri karena kita merasa diri tidak setara dengan mereka. Kita takut membuka diri dan takut dikenal dengan dekat. Kita cenderung dekat dengan teman yang melindungi kita, karena di dekatnya kita merasa aman. Kita peka dengan penolakan dan akan berupaya sekeras mungkin untuk diterima. Kita senantiasa menantikan kebaikan orang untuk memberi pertolongan dan perlindungan.

Pada akhirnya kita berjumpa dengan pasangan, dan “secara kebetulan” ia adalah seseorang yang memberi pertolongan dan perlindungan kepada kita. Ia adalah konselor dan kita klien. Bagi kita dan juga baginya, relasi ini sempurna—ia membutuhkan klien dan kita membutuhkan konselor. Kita memerlukan seseorang untuk bergantung, dan ia membutuhkan orang untuk bergantung padanya agar ia merasa berguna dan berharga.

Relasi klien-konselor bisa berlangsung lama tanpa masalah berarti tetapi dapat pula berlangsung singkat. Relasi ini dapat berlangsung lama, karena kita dan pasangan tidak mengubah peran kita masing-masing; tanpa disadari kita telah menandatangani kontrak untuk menjalani peran masing-masing, dan kita terus mengikuti kontrak ini. Namun, sebagian dari kita tidak selamanya setia pada kontrak tak tertulis ini. Kita yang berfungsi sebagai klien secara berangsur mengembangkan penilaian diri yang lebih positif, dan mulailah kita mengurangi kebergantungan pada pasangan. Kita tidak lagi membutuhkan pertolongan dan perlindungannya, karena makin banyak hal yang dapat kita lakukan sendiri. Untuk merasa aman, kita pun tidak memerlukannya, sebab kita tidak lagi merasa takut menghadapi dunia ini.

Masalah timbul bila pasangan kita tetap menginginkan pola relasi yang sama; ia tetap ingin menjadi konselor sedangkan kita tidak lagi membutuhkan konselor. Atau kebalikannya, kita terus ingin menjadi klien sedangkan ia tidak lagi bersedia menjadi konselor. Ia letih dan tidak sanggup lagi memberi pertolongan dan perlindungan terus-menerus. Ia ingin “pensiun dini”. Akibatnya, kita panik dan makin memegangi tangan dan kakinya, agar ia tidak pergi ke mana-mana. Ketegangan pun muncul dan relasi mengalami gangguan.

Kesimpulan

Penilaian diri berpengaruh besar terhadap relasi nikah. Penilaian diri yang sehat cenderung menciptakan relasi nikah yang sehat; sebaliknya, penilaian diri yang buruk berpotensi memburukkan relasi nikah. Kadang masalahnya terletak bukan pada penilaian diri yang buruk, melainkan pada perbedaan peran dan harapan. Ada baiknya, sebelum kita menyalahkan pasangan akan segala malapetaka yang kita alami, kita mengintrospeksi terlebih dahulu—jangan-jangan kitalah sumber malapetaka itu. Jika kita melihat bahwa kita sendiri yang memicu masalah akibat penilaian diri yang tidak sehat, akuilah secara terbuka kepada pasangan kita. Coba kemukakan kebutuhan kita kepadanya, dan sepakati hal-hal apa yang dapat atau tidak dapat diberikannya.

Kebanyakan kita tidak bersedia mengakui apalagi meminta pasangan untuk menolong. Sering kali kita lebih nyaman menuntutnya untuk menyediakan kebutuhan kita, dan menyalahkannya bila ia lalai melakukannya. Kita tidak ingin melihat diri sendiri, karena kita beranggapan pastilah masalahnya terletak pada pasangan kita. Tepatlah seperti yang dikatakan Yesus Kristus, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Dia memberi jalan keluar bagi kita yang berada dalam kondisi ini, “…keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

:)  Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)


MENILAI DAN MENGASIHI

Bagaimana kita bisa mengasihi… bila kita tidak melihat diri dengan jelas, dan melihat orang yang kita kasihi dengan jelas pula?

Menghakimi orang lain adalah tanda bahwa ada balok yang menutupi di mata kita, yang menghalangi kita agar dapat mengeluarkan selumbar dari mata orang yang kita kasihi. Penilaian kita tidak tepat…

BALOK dan SELUMBAR

Apakah penilaian yang tidak tepat terhadap diri sendiri akan mempengaruhi relasi nikah kita? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah, ya. Ternyata pandangan dan perlakuan kita terhadap diri sendiri mempengaruhi pandangan dan perlakuan kita terhadap pasangan, juga anak.

Di bawah ini akan saya paparkan beberapa pandangan dan perlakuan terhadap diri dan dampaknya pada keluarga.

Raja dan Hulubalang

Ada sebagian dari kita yang dibesarkan “tanpa orangtua”; mungkin ada orangtua namun mereka terlalu sibuk untuk bisa meluangkan waktu di rumah. Atau, orangtua sangat memanjakan kita sehingga apa pun yang kita inginkan, pasti dituruti. Akibatnya kita bertumbuh besar sendiri tanpa pengawasan dan arahan mereka; bak banteng liar, kita siap menyeruduk siapa dan apa saja yang menghalangi langkah kita. Kita adalah pusat kehidupan dan orang lain hanyalah obyek untuk kita manfaatkan. Kita adalah raja yang dikelilingi oleh hulubalang yang harus siap menjalankan perintah kita.

Di dalam pernikahan, kita cenderung mempertahankan peran yang sama—sebagai  raja—dan kita menuntut pasangan kita untuk berfungsi sebagai hulubalang. Kita tidak mengenal dan tidak mengizinkan adanya kompromi, sebab semua harus berjalan sesuai dengan kehendak kita. Kita pun tidak mudah mengakui kesalahan, sebab kesalahan berarti kelemahan, dan kelemahan berarti kita dapat “diserang” oleh pasangan. Mengakui kesalahan, berarti kita menjadi perdana menteri, bukan raja, dan ini adalah keadaan yang tidak kita inginkan terjadi. Kita senantiasa harus tampil sempurna, dan tidak ada seorang pun yang boleh menuntut apa pun dari kita. Tuntutan berarti ada yang kurang pada diri kita, dan ini tidak akan kita biarkan. Itu sebabnya dalam relasi nikah model “raja dan hulubalang”, komunikasi antara suami-istri biasanya berkisar dari buruk sampai tidak ada sama sekali.

Buruh dan Mandor

Ada sebagian dari kita yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat kritis dan dingin. Hampir tidak ada satu hal pun yang benar pada diri kita; selalu saja ada kekurangan yang dapat diketemukannya. Sebaik apa pun karya yang kita hasilkan, selalu akan ada cacatnya dan jangan kita berharap untuk menerima pujian. Pujian hanyalah untuk anak lain—orang lain—bukan  kita. Alhasil, kita hidup dibayangi oleh ketakutan bahwa kita akan melakukan kesalahan, dan kesalahan berarti teguran, dan teguran mendukakan hati, karena teguran mengingatkan sekaligus meneguhkan rasa bahwa kita tidak cukup baik—bahkan tidak cukup baik untuk hidup. Kita bisa berusaha keras memperbaiki diri, seakan-akan tidak ada cukupnya bagi kita untuk meningkatkan diri. Kita adalah buruh yang senantiasa bekerja tanpa henti di bawah pengawasan seorang mandor yang galak. Kita menjadi letih namun tidak bisa beristirahat sejenak pun.

Di dalam pernikahan, kita menganggap diri tidak cukup baik untuk menikah dengan pasangan kita. Kita akan berupaya keras menciptakan rumah seindah, setenteram, dan sebersih mungkin. Kita ingin memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik bagi pasangan kita. Kita takut kalau-kalau pasangan menemukan kelemahan pada diri kita, dan biasanya tidak mudah bagi kita mendengarkan “masukan” darinya, sebab masukan berarti ketidaksempurnaan, dan itu berarti ketidakpuasan—hal yang paling kita takuti. Ketidakpuasan adalah monster yang mengejar kita, dan darinyalah kita berupaya lari sejauh mungkin. Ketidakpuasan berarti kita tidak cukup baik untuk dikasihi, diterima, dan dihargai.

Terhadap anak kita cenderung mengulang perlakuan orang tua; kita pun menuntutnya untuk berprestasi dan berperilaku sebaik mungkin. Kita khawatir kalau-kalau orang lain mendapati bahwa anak kita bermasalah, sebab itu berarti sebagai orang tua kita telah gagal. Seperti orang tua kita dulu, sekarang pun kita menuntut anak untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Kita tidak memberinya ruang untuk keliru atau gagal. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita berharap anak kita akan menjadi lebih baik daripada kita—dulu dan sekarang. Pada akhirnya, kita menjadi mandor dan anak pun menjadi buruh.

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

 

Ikuti kelanjutannya…

:)  Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman :)


TAAT dan HORMAT

Obeying our parents is our main task when we are young, but honoring them should continue even beyond their deaths. Honoring involves all that sons and daughters do with their lives-the way they work and talk, the values they hold, and the morals they practice.

Menaati orangtua kita adalah utama sebelum kita akil balig, tetapi menghormati mereka berlanjut selamanya. Menghormati orangtua itu termasuk semua yang  putra dan putrinya lakukan dengan hidupnya–cara mereka bekerja dan berbicara, nilai-nilai yang mereka pegang, dan nilai-nilai moral yang mereka pakai.

-LASB ® Devotion – Day 14


REJOICE!

Have a joyous blessed christmas


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers