BOLEHKAH MENUNTUT ANAK?

Membesarkan anak butuh hikmat, seberapa mengerem dan seberapa mengegasnya, juga kapan mengerem dan kapan mengegasnya…

Sungguh benar kalimat yang diucapkan Paul Gunadi kepada saya di sesi konseling itu, dan hikmat sangat dibutuhkan orangtua dalam menjawab pertanyaan berikut…

BOLEHKAH MENUNTUT ANAK?

Pelajaran pertama dan mungkin terpenting dalam mengendarai sepeda ialah: bagaimana menjaga keseimbangan tubuh kita di atas batang-batang besi beroda dua itu. Saya kira membesarkan anak dapat diibaratkan dengan mengendarai sepeda.

Banyak unsur dalam membesarkan anak yang harus ada secara berimbang: “terlalu banyak” atau “terlalu sedikit” biasanya mengakibatkan dampak yang sama-sama negatifnya. Misalnya terlalu sayang dan terlalu protektif dapat membuat anak lemah serta kurang percaya diri. Sebaliknya kurang kasih sayang bisa juga menjadikan anak lemah dan tidak mempunyai keyakinan diri. Demikian pula tuntutan. Terlalu banyak tuntutan membuat anak tertekan, sebaliknya terlalu sedikit tuntutan menjadikan anak terlena.

Saya tidak setuju dengan falsafah pendidikan anak yang menghilangkan segi tuntutan secara total. Tuntutan merangsang pertumbuhan; tanpa tuntutan, anak berkembang bebas tanpa arah dan berhenti bertumbuh. Tuntutan juga bermetamorfosis dalam diri anak, menjadi motivasi dan disiplin yang sangat berfaedah bagi kehidupannya kelak. Namun tuntutan perlu diberikan dengan hati-hati agar berkhasiat maksimal.

Secara spesifik, tuntutan hanya akan efektif bagi pertumbuhan anak bila diiringi oleh unsur atau kondisi tertentu. Bak menanam padi, kita harus menggemburkan tanah dan mengalirkan air dengan teratur. Benih padi sebaik apapun tidak akan tumbuh di tanah yang tandus. Di bawah ini akan saya paparkan empat prinsip yang harus ada bersama dengan tuntutan, agar tuntutan bisa mencapai hasil yang optimal.

Pertama, harus ada kasih dan penerimaan penuh.

Sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih orangtua yang menerimanya secara total. Maksudnya, anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap dikasihi orangtua meski ia belum tentu mampu meraih standar orangtua. Tanpa keraguan anak dapat berkata bahwa cinta kasih orangtua terhadapnya tidak tergantung apakah ia mendapat nilai 9 atau 5. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa orangtua telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan: sebab ia adalah anak yang mereka kasihi.

Sebaliknya tuntutan yang diberikan tanpa landasan kasih dan penerimaan penuh, akan jatuh bagaikan duri yang menusuk kalbu. Tanpa kehadiran kasih dan penerimaan, anak akan cenderung mengaitkan perfoma dengan kasih orangtua. Maksudnya, anak akan berpikir bahwa ia hanya akan dikasihi apabila ia berhasil. Memenuhi tuntutan orangtua, misalnya meraih nilai yang bagus. Juga, tanpa adanya penerimaan dari orangtua, tuntutan akan menjadi dingin dan kehilangan unsur kemanusiaan, sehingga tidak jarang anak akhirnya merespons tuntutan seperti itu dengan penuh kebencian. Anak seolah-olah berseru, “Engkau tak berhak menuntut apapun dariku karena engkau tidak mengasihiku!”

Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan akan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orangtua, bukan untuk mendapatkan kasih orangtua.

Kedua, harus ada target yang spesifik.

Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang berorientasi pada target tertentu. Tidak jarang orangtua melakukan kesalahan yang umum terjadi, yakni menuntut anak menjadi “lebih baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tinggi,” dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas akan membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya. Ia perlu mengerti apa itu yang dituntut orangtua, dengan jelas, agar ia tahu apa itu yang harus dilakukannya.

Mungkin ada di antara kita yang berkata, bukankah target menjadi rajin adalah target yang cukup spesifik dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut? Saya akan memberikan contoh yang berkenaan dengan kehidupan orang dewasa. Pernahkah kita diminta atasan menjadi “lebih giat” bekerja dan kita menjadi bingung dengan permintaannya itu? Kita bingung sebab kita sudah merasa bekerja sebaik-baiknya, dan kita tidak tidak tahu lagi apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi target tersebut. Namun kita akan dapat memahami tuntutan itu dengan lebih jelas, apabila atasan meminta kita menjual produk dua kali lebih banyak, atau menambah jumlah pelanggan tiga kali lipat.

Anak akan lebih memahami tuntutan orangtua, apabila tuntutan itu dijabarkan sespesifik mungkin. Daripada berkata, “lebih rajin dan lebih pintar” mungkin lebih baik kita memintanya menambah jam belajar, atau menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum bermain. Daripada menuntutnya, “berprestasi lebih tinggi,” kita bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah, dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut. Kita bisa menargetkan supaya pada ulangan berikutnya ia mencoba meraih nilai 7. Saya kira anak akan lebih mampu mencapai hasil yang kita inginkan bila ia tahu jelas apa itu yang harus ia lakukan.

    -Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

    Ikuti kelanjutannya…

    :)Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

    Advertisements

BALOK dan SELUMBAR

Apakah penilaian yang tidak tepat terhadap diri sendiri akan mempengaruhi relasi nikah kita? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah, ya.

Ternyata pandangan dan perlakuan kita terhadap diri sendiri mempengaruhi pandangan dan perlakuan kita terhadap pasangan, juga anak.

Berikut ini kelanjutan mengenai beberapa pandangan dan perlakuan terhadap diri dan dampaknya pada keluarga.

Guru dan Murid

Ada sebagian dari kita yang diberkati dengan kecerdasan yang melebihi kecerdasan kakak dan adik kita. Orang tua sangat bangga dengan kita dan mereka tidak segan-segan menunjukkan kebanggaan itu di hadapan orang lain. Di sekolah, kita pun menerima perlakuan yang sama. Prestasi akademik kita di atas rata-rata dan banyak teman yang meminta kesediaan kita untuk menolong mereka. Kadang apa yang guru tidak dapat terangkan dengan jelas, kita bisa menerangkannya dengan lebih jelas kepada teman-teman. Kita adalah anak emas dan kita menikmati status tinggi yang dianugerahkan kepada kita. Banyak hal yang tidak dapat dikerjakan orang, atau kalaupun dikerjakan hasilnya tidak sebaik jika kita yang mengerjakannya. Itu sebabnya kita menjadi rebutan teman untuk dimintai bantuan dan sebagai imbalannya, kita merasa puas melihat rona kagum dan bersyukur di wajah mereka.

Di dalam pernikahan kita pun melestarikan peran sebagai guru, karena “kebetulan” pasangan kita adalah mantan teman yang dulu pun mengagumi kelebihan kita. Ia sering bertanya dan meminta pendapat kita, bahkan dalam mengerjakan tugas, sering kali ia memohon bantuan kita. Sekarang kita mengharapkan perlakuan yang sama. Kita tidak begitu senang bila ia lupa memberikan penghargaan kepada kita, sebab bukankah kita yang telah berjasa besar memikirkan segala sesuatunya untuk kepentingan keluarga?

Selama relasi ini sama seperti sediakala, tidak akan banyak masalah yang muncul. Kita senang menjadi guru dan pasangan kita senang menjadi murid. Celakanya, kita tidak selalu bisa mempertahankan status Quo. Adakalanya pasangan kita mulai berkembang dan menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih kuat (sebab, bukankah kita adalah guru terbaiknya?). Sebagai akibatnya, ia semakin jarang bertanya dan makin sering mengambil keputusan tanpa melibatkan kita. Sikap ini cukup meresahkan sebab tiba-tiba kita menyadari bahwa hilanglah peran dan fungsi kita di keluarga. Zaman keemasan sudah berlalu dan kita berhenti menjadi anak emas. Tidak ada lagi murid dan ini berarti, tidak ada lagi guru. Sama-sama guru dan sama-sama murid.

Klien dan Konselor

Sebagian dari kita dibesarkan dalam rumah yang penuh konflik; orang tua hampir tidak pernah berbicara baik-baik dan pertengkaran menjadi sarana komunikasi. Pada akhirnya kita mengembangkan penilaian diri yang negatif, karena kita beranggapan bahwa kita berasal dari keluarga bermasalah.

Sebagian dari kita yang bertumbuh besar dalam keluarga bermasalah, mengembangkan penilaian diri yang negatif, sebab kita menjadi korban masalah orang tua. Dalam kondisi yang tidak harmonis, orang tua menjadi tidak sabar, dan acap kali merendahkan dan melampiaskan frustrasinya kepada kita. Perlakuan kasar dan melecehkan akhirnya menyerap masuk dan mempengaruhi penilaian diri. Tidak ada lagi yang baik tentang kita, tidak ada yang dapat dibanggakan. Kita melihat diri sebagai barang buangan yang tidak diinginkan orang lagi.

Dalam pergaulan dengan teman, kita cenderung menarik diri karena kita merasa diri tidak setara dengan mereka. Kita takut membuka diri dan takut dikenal dengan dekat. Kita cenderung dekat dengan teman yang melindungi kita, karena di dekatnya kita merasa aman. Kita peka dengan penolakan dan akan berupaya sekeras mungkin untuk diterima. Kita senantiasa menantikan kebaikan orang untuk memberi pertolongan dan perlindungan.

Pada akhirnya kita berjumpa dengan pasangan, dan “secara kebetulan” ia adalah seseorang yang memberi pertolongan dan perlindungan kepada kita. Ia adalah konselor dan kita klien. Bagi kita dan juga baginya, relasi ini sempurna—ia membutuhkan klien dan kita membutuhkan konselor. Kita memerlukan seseorang untuk bergantung, dan ia membutuhkan orang untuk bergantung padanya agar ia merasa berguna dan berharga.

Relasi klien-konselor bisa berlangsung lama tanpa masalah berarti tetapi dapat pula berlangsung singkat. Relasi ini dapat berlangsung lama, karena kita dan pasangan tidak mengubah peran kita masing-masing; tanpa disadari kita telah menandatangani kontrak untuk menjalani peran masing-masing, dan kita terus mengikuti kontrak ini. Namun, sebagian dari kita tidak selamanya setia pada kontrak tak tertulis ini. Kita yang berfungsi sebagai klien secara berangsur mengembangkan penilaian diri yang lebih positif, dan mulailah kita mengurangi kebergantungan pada pasangan. Kita tidak lagi membutuhkan pertolongan dan perlindungannya, karena makin banyak hal yang dapat kita lakukan sendiri. Untuk merasa aman, kita pun tidak memerlukannya, sebab kita tidak lagi merasa takut menghadapi dunia ini.

Masalah timbul bila pasangan kita tetap menginginkan pola relasi yang sama; ia tetap ingin menjadi konselor sedangkan kita tidak lagi membutuhkan konselor. Atau kebalikannya, kita terus ingin menjadi klien sedangkan ia tidak lagi bersedia menjadi konselor. Ia letih dan tidak sanggup lagi memberi pertolongan dan perlindungan terus-menerus. Ia ingin “pensiun dini”. Akibatnya, kita panik dan makin memegangi tangan dan kakinya, agar ia tidak pergi ke mana-mana. Ketegangan pun muncul dan relasi mengalami gangguan.

Kesimpulan

Penilaian diri berpengaruh besar terhadap relasi nikah. Penilaian diri yang sehat cenderung menciptakan relasi nikah yang sehat; sebaliknya, penilaian diri yang buruk berpotensi memburukkan relasi nikah. Kadang masalahnya terletak bukan pada penilaian diri yang buruk, melainkan pada perbedaan peran dan harapan. Ada baiknya, sebelum kita menyalahkan pasangan akan segala malapetaka yang kita alami, kita mengintrospeksi terlebih dahulu—jangan-jangan kitalah sumber malapetaka itu. Jika kita melihat bahwa kita sendiri yang memicu masalah akibat penilaian diri yang tidak sehat, akuilah secara terbuka kepada pasangan kita. Coba kemukakan kebutuhan kita kepadanya, dan sepakati hal-hal apa yang dapat atau tidak dapat diberikannya.

Kebanyakan kita tidak bersedia mengakui apalagi meminta pasangan untuk menolong. Sering kali kita lebih nyaman menuntutnya untuk menyediakan kebutuhan kita, dan menyalahkannya bila ia lalai melakukannya. Kita tidak ingin melihat diri sendiri, karena kita beranggapan pastilah masalahnya terletak pada pasangan kita. Tepatlah seperti yang dikatakan Yesus Kristus, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Dia memberi jalan keluar bagi kita yang berada dalam kondisi ini, “…keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

MENILAI DAN MENGASIHI

Bagaimana kita bisa mengasihi… bila kita tidak melihat diri dengan jelas, dan melihat orang yang kita kasihi dengan jelas pula?

Menghakimi orang lain adalah tanda bahwa ada balok yang menutupi di mata kita, yang menghalangi kita agar dapat mengeluarkan selumbar dari mata orang yang kita kasihi. Penilaian kita tidak tepat…

BALOK dan SELUMBAR

Apakah penilaian yang tidak tepat terhadap diri sendiri akan mempengaruhi relasi nikah kita? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah, ya. Ternyata pandangan dan perlakuan kita terhadap diri sendiri mempengaruhi pandangan dan perlakuan kita terhadap pasangan, juga anak.

Di bawah ini akan saya paparkan beberapa pandangan dan perlakuan terhadap diri dan dampaknya pada keluarga.

Raja dan Hulubalang

Ada sebagian dari kita yang dibesarkan “tanpa orangtua”; mungkin ada orangtua namun mereka terlalu sibuk untuk bisa meluangkan waktu di rumah. Atau, orangtua sangat memanjakan kita sehingga apa pun yang kita inginkan, pasti dituruti. Akibatnya kita bertumbuh besar sendiri tanpa pengawasan dan arahan mereka; bak banteng liar, kita siap menyeruduk siapa dan apa saja yang menghalangi langkah kita. Kita adalah pusat kehidupan dan orang lain hanyalah obyek untuk kita manfaatkan. Kita adalah raja yang dikelilingi oleh hulubalang yang harus siap menjalankan perintah kita.

Di dalam pernikahan, kita cenderung mempertahankan peran yang sama—sebagai  raja—dan kita menuntut pasangan kita untuk berfungsi sebagai hulubalang. Kita tidak mengenal dan tidak mengizinkan adanya kompromi, sebab semua harus berjalan sesuai dengan kehendak kita. Kita pun tidak mudah mengakui kesalahan, sebab kesalahan berarti kelemahan, dan kelemahan berarti kita dapat “diserang” oleh pasangan. Mengakui kesalahan, berarti kita menjadi perdana menteri, bukan raja, dan ini adalah keadaan yang tidak kita inginkan terjadi. Kita senantiasa harus tampil sempurna, dan tidak ada seorang pun yang boleh menuntut apa pun dari kita. Tuntutan berarti ada yang kurang pada diri kita, dan ini tidak akan kita biarkan. Itu sebabnya dalam relasi nikah model “raja dan hulubalang”, komunikasi antara suami-istri biasanya berkisar dari buruk sampai tidak ada sama sekali.

Buruh dan Mandor

Ada sebagian dari kita yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat kritis dan dingin. Hampir tidak ada satu hal pun yang benar pada diri kita; selalu saja ada kekurangan yang dapat diketemukannya. Sebaik apa pun karya yang kita hasilkan, selalu akan ada cacatnya dan jangan kita berharap untuk menerima pujian. Pujian hanyalah untuk anak lain—orang lain—bukan  kita. Alhasil, kita hidup dibayangi oleh ketakutan bahwa kita akan melakukan kesalahan, dan kesalahan berarti teguran, dan teguran mendukakan hati, karena teguran mengingatkan sekaligus meneguhkan rasa bahwa kita tidak cukup baik—bahkan tidak cukup baik untuk hidup. Kita bisa berusaha keras memperbaiki diri, seakan-akan tidak ada cukupnya bagi kita untuk meningkatkan diri. Kita adalah buruh yang senantiasa bekerja tanpa henti di bawah pengawasan seorang mandor yang galak. Kita menjadi letih namun tidak bisa beristirahat sejenak pun.

Di dalam pernikahan, kita menganggap diri tidak cukup baik untuk menikah dengan pasangan kita. Kita akan berupaya keras menciptakan rumah seindah, setenteram, dan sebersih mungkin. Kita ingin memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik bagi pasangan kita. Kita takut kalau-kalau pasangan menemukan kelemahan pada diri kita, dan biasanya tidak mudah bagi kita mendengarkan “masukan” darinya, sebab masukan berarti ketidaksempurnaan, dan itu berarti ketidakpuasan—hal yang paling kita takuti. Ketidakpuasan adalah monster yang mengejar kita, dan darinyalah kita berupaya lari sejauh mungkin. Ketidakpuasan berarti kita tidak cukup baik untuk dikasihi, diterima, dan dihargai.

Terhadap anak kita cenderung mengulang perlakuan orang tua; kita pun menuntutnya untuk berprestasi dan berperilaku sebaik mungkin. Kita khawatir kalau-kalau orang lain mendapati bahwa anak kita bermasalah, sebab itu berarti sebagai orang tua kita telah gagal. Seperti orang tua kita dulu, sekarang pun kita menuntut anak untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Kita tidak memberinya ruang untuk keliru atau gagal. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita berharap anak kita akan menjadi lebih baik daripada kita—dulu dan sekarang. Pada akhirnya, kita menjadi mandor dan anak pun menjadi buruh.

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

 

Ikuti kelanjutannya…

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

TELADAN

Awasi dirimu dan ajaranmu…

Nasihat bijak ini sangat efektif menolong saya menjaga diri: ajaran saya adalah hidup saya, dan hidup saya adalah ajaran saya. Metode mengajar yang terbukti terbaik: ajaran saya sama dengan hidup saya. Kunci utama keteladanan adalah rendah hati.

RENDAH HATI

Tanggung jawab belajar itu diberikan kembali kepada orang-orangnya, sehingga terjadilah perubahan yang diinginkan.

Salah satu contoh yang saya juga sering lihat pada perusahaan-perusahaan yang besar, yang profesional, yang dilakukan adalah: saham dijual kepada para karyawan, sehingga mereka tidak lagi menjadi karyawan meskipun status tetap karyawan, tetapi mereka adalah pemilik karena mereka adalah pemegang saham. Dengan kata lain ini bukan perusahaan Anda, ini perusahaan kita bersama. Nah, waktu orang menyadari ini adalah perusahaan kita bersama, maka dia akan lebih termotivasi berubah, artinya memberi semaksimal mungkin.

Jadi kita bisa terapkan ini dalam segala hal. Contoh yang lebih klasik: kadang-kadang kita tidak begitu nyaman dengan perdebatan atau pertanyaan. Kita kadang-kadang cenderung untuk menggariskan dengan kaku: inilah jalurnya, di luar jalur ini berarti engkau sesat, di luar jalur ini berarti engkau memberontak kepada Allah dan sebagainya. Nah, orang-orang itu tidak akan belajar, tidak akan melakukan perubahan-perubahan yang diminta oleh Allah, juga karena memang tidak pernah mempunyai tanggung jawab untuk itu.

Kedua, kalau kita sendiri mau belajar. Memang harus ada kesadaran bahwa kita perlu dan harus berubah. Jadi dalam diri sendiri memang harus ada kesadaran itu. Kalau kita sudah mempunyai sikap saya tak perlu, dan saya tidak usah berubah atau belajar, tidak mungkin kita belajar. Maka dapat dikatakan bahwa orang yang belajar, adalah orang yang rendah hati.

Kadang-kadang ini yang kita temukan, ada orang yang seolah-olah belajar, tetapi sesungguhnya dia hanyalah mengumpulkan data untuk mengkonfirmasikan pendiriannya. Dia tidak bersedia belajar hal yang berlawanan dengan pendiriannya, atau keyakinannya, dia selalu hanya mengumpulkan informasi-informasi yang hanya mendukung keyakinannya itu. Orang ini hanya akan berkembang secara sempit, tidak akan luas.

Orang yang luas adalah orang yang bersedia belajar dari segala pihak. Kalau saya terapkan dalam konteks keluarga: Bukankah kalau kita sudah mengembangkan praduga atau konsep bahwa pasangan kita ini orangnya tidak sensitif misalnya, kita cenderung mencari data-data tambahan untuk mengkonfirmasi bahwa dia orangnya tidak sensitif. Dengan kata lain, hal-hal lain yang bisa mendukung bahwa dia itu sebetulnya bisa baik, bisa sensitif, itu cenderung tidak kita sampaikan, yang kita fokuskan adalah dia ini orangnya kurang sensitif. Data-data yang mendukung itulah yang kita lebih perhatikan.

Ketiga, belajar itu berkaitan dengan kebutuhan kita. Kalau memang kita mempunyai kebutuhan untuk hal tersebut, kita lebih terbuka untuk mempelajarinya. Kalau kita tidak merasakan kebutuhan itu, kita tidak terbuka untuk belajar.

Keempat, ada satu faktor yang juga bisa menstimulasi kita untuk belajar, yakni kita bukannya digerakkan oleh kebutuhan, tetapi digerakkan oleh inspirasi. Untuk kita bisa berubah, kita mesti melihat yang mendidik kita, atau yang mengajar kita, telah memberikan contoh hidup. Contoh hidup yang langsung itu bisa menjadi inspirasi buat kita.

Mendiang Ibu Theresa tidak akan sukses pergi ke mana-mana untuk mengajak orang-orang terlibat pelayanan terhadap kaum papa di India, kalau dia sendiri tidak terlibat di situ. Jadi seorang Ibu Theresa lah yang baru bisa mendorong orang-orang untuk terlibat dalam pelayanan kaum miskin. Kalau dia hidup dalam kekayaan, tidak pernah bersentuhan dengan orang miskin, kemudian terus mendorong orang-orang terlibat dalam pelayanan seperti itu, dia tidak akan berhasil.

Jadi diperlukan contoh. Contoh di mana orang itu bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Inspirasi seperti itulah yang akan membakar orang untuk bertindak sesuai dengan si pengajar itu.

Memang kita sejak kecil terbiasa belajar dengan melihat, itu jauh lebih gampang daripada cuma dengar kata-kata. Kita melihat sehingga kita lebih tahu, lebih jelas dan kita tahu ini bisa dilakukan, namun yang penting juga adalah inspirasi itu. Maka siapa yang hendak menjadi pendidik harus menjadi pelaku dari ajarannya itu. Kalau orang hanya mendengar tetapi tidak melakukan, dia seperti orang yang bercermin kemudian dia tinggalkan cerminnya, dia lupa wajahnya bagaimana.

Terutama di dalam rumah sendiri, di mana anak-anak kita itu melihat kita sehari-hari. Untuk mendorong mereka belajar, yang diperlukan bukan cuma menciptakan kondisi yang kondisif di rumah, tetapi mereka juga butuh keteladanan kita sebagai orang tua.

-Paul Gunadi, TELAGA, T108A

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

Berubah

Aku berubah, sungguh ku berubah…

Penggalan lirik lagu itu mengungkapkan kebenaran bahwa perubahan itu berawal dari diriku. Ada sebuah prinsip sederhana yang saya miliki dan selalu berhasil: bila aku ingin orang lain atau situasi berubah, perubahan itu harus mulai dari diriku. Cobalah dan buktikan, dan untuk itu kita perlu berani berubah.

BERANI BERUBAH

Ada beberapa hal yang memudahkan terjadinya proses belajar, dalam pengertian untuk menolong kita berani berubah.

Pertama adalah lingkungan di mana kita belajar mesti kondusif. Maksudnya, lingkungan itu dapat mengembalikan tanggung jawab belajar kepada si individu.

Kadang kala dalam suasana belajar yang kita jalani, kita tidak mempunyai kebebasan. Karena kita tidak mempunyai kebebasan, maka kita cenderung mengikuti apa yang telah digariskan. Mengikuti apa yang telah digariskan sebetulnya bukan belajar, itu hanyalah tranfer informasi dari satu orang kepada orang yang lainnya. Sedangkan tujuan belajar itu sendiri tidak tercapai, prosesnya memang terjalin, yaitu proses penambahan ilmu atau pengetahuan. Tetapi tujuan akhir belajar yaitu perubahan, tidak terjadi, karena apa? Orang tersebut tidak diberi kebebasan untuk berpikir, untuk bertanya.

Contoh: Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertanya kenapa kemalangan menimpa saya, apa salah saya, seberapa besar dosa saya?

Jadi kalau kita diberikan kesempatan untuk berpikir, untuk bertanya, belajar menjadi tanggung jawab kita. Kalau kita tidak diberikan kesempatan untuk berpikir atau pun bertanya, kita tidak lagi belajar, sebab tanggung jawab belajar itu menjadi tidak ada pada diri kita, melainkan pada si pendidiknya.

Jadi penting sekali kita mengalihkan tanggung jawab itu kepada si anak didik, bahwa ini yang engkau harus cari, atau harus engkau temukan. Dan saya kira ini yang penting supaya kita bisa belajar dengan wajar, sehingga kita lebih mudah berubah.

Contoh lain yang sering kali terjadi, yaitu banyak anak-anak yang susah dewasa karena keputusan-keputusan sudah diambilkan oleh orang tuanya, sudah digariskan oleh orang tuanya. Hidup itu benar-benar tidak lagi mempunyai tuntutan untuk memilih, untuk berpikir, untuk memutuskan, karena hidup itu sudah ditetapkan oleh orang tua. Nah, si anak tidak bisa berubah, atau susah sekali untuk berubah, karena apa? Dia tidak pernah memikul tanggung jawab itu untuk belajar.

Jadi sekali lagi, untuk bisa kita menciptakan suasana belajar, kita perlu menciptakan situasi yang bebas sehingga orang bisa merdeka untuk berpikir dan untuk bertanya.

Kadang-kadang waktu dan kesempatan itu sebenarnya ada, hanya kita juga punya kecenderungan untuk mengambil jalan pintasnya supaya cepat. Contoh: seperti anak itu, tadinya kita beri kesempatan tetapi lama sekali memutuskan. Lalu kita sebagai orang tua, atau anak pun juga berkata untuk mengambil jalan pintas. “Terserah Papa”, atau sebaliknya kita sebagai orang tua, “Mengikuti saya sajalah, pasti betul.”

Jalan pintas, memang memberi kita solusi, tetapi kita lupa bahwa solusi itu sementara bukan permanen. Yang lebih baik adalah melimpahkan tanggung jawab itu kepada si anak. Ini bisa kita terapkan dalam segala relasi sebetulnya.

 -Paul Gunadi,TELAGA, T108A

Ikuti kelanjutannya…

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

Belajar

Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan…

“Tidak ada istilah terlampau tua untuk belajar… .” Nasihat baik ini sering kita dengar untuk menyemangati orang agar tak pernah berhenti belajar dalam hidup ini. Dan benar. Tetapi untuk itu perlu sedia belajar.

SEDIA BELAJAR

Belajar itu sebenarnya suatu sikap hidup, pola hidup, atau kemauan, atau apa?
Belajar mempunyai arti yang luas, sebetulnya belajar itu adalah penambahan pengetahuan. Sesuatu yang belum kita ketahui, kemudian kita ketahui setelah melewati proses yang disebut belajar.

Belajar itu tidak harus di sekolah, belajar itu bisa terjadi di mana pun, dan sejak dini seseorang itu harus mulai belajar. Sikap yang baik adalah sikap mau belajar. Untuk bisa hidup sehat kita perlu mempunyai kesediaan untuk belajar.

Belajar yang dimaksud di sini, bukan belajar dalam lingkup akademik, melainkan belajar dalam pengalaman hidup. Apa yang harus kita timba dari peristiwa-peristiwa yang kita hadapi? Apa yang Allah ajarkan yang mesti kita lihat dan kita terima?

Pengertian sehat bukan hanya terbatas pada sehat secara fisik. Sehat di sini adalah sehat secara jiwa, sehat secara rohani. Bila kita bisa mengembangkan sikap bersedia belajar dalam hidup ini, kita akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan lebih baik.

Ketimbang orang yang tidak bersedia belajar dalam hidup ini, karena menganggap yang dia ketahui sudah paling benar, dan tidak ada lagi tempat buat dia bertumbuh atau belajar dari orang lain. Sikap itu akan membenturkan dia dengan tembok-tembok kehidupan ini.

Terus terang sebagian besar kita sebenarnya mau saja belajar, kadang-kadang timbul hasrat yang kuat untuk belajar. Tetapi faktanya dengan berjalannya waktu, itu cuma sekadar cita-cita saja, kok bisa begitu kenapa?

Ada dua sifat dalam belajar yang perlu kita ketahui. Dua sifat ini sebetulnya saling bertentangan. Nah, inilah yang jarang kita perhatikan.

Sifat pertama adalah belajar itu mengisi rasa ingin tahu kita. Kita adalah makhluk rasional, dan sebagai makhluk rasional ingin tahu hal-hal yang belum kita ketahui.

Belajar dalam pengetahuan ini memang memenuhi keingintahuan kita, dan belajar dalam hal ini sesuai dengan kodrat kita, sesuai dengan sifat kita. Tetapi belajar mempunyai sisi yang lain, yang mesti kita pahami.

Sifat kedua adalah belajar itu sebetulnya menuntut perubahan pada diri kita. Maka dikatakan bahwa belajar belum terjadi jika perubahan belum terjadi. Dengan kata lain tujuan belajar ialah perubahan. Baik itu perubahan dalam pemikiran, perasaan, atau perilaku. Contoh, gara-gara kita belajar, maka: sekarang kita tahu bagaimana berelasi dengan orang dengan lebih santun, misalnya; atau kita tahu bahwa angin itu bergerak karena tekanan udara; atau kita tahu bahwa matahari itu sebetulnya berdaya sangat besar sekali, dan kita itu di bumi tempat yang kecil sekali. Jadi perubahan-perubahan itu menyangkut perubahan cara pandang juga menyangkut perubahan perilaku.

Kenapa ini adalah sesuatu yang sukar?
Karena belajar menuntut perubahan, dan perubahan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena perubahan itu mempunyai satu tuntutan, yaitu kita mengubah sesuatu yang telah kita tetapkan untuk diri kita, sesuatu yang kita telah terbiasa, dan untuk mengubah itu biasanya tidak mudah.

Tidak mudahnya itu sering kali menyakitkan kita. Kita merasa sakit untuk berubah, atau kita berpikiran, tidak apa-apa kenapa harus berubah?

Kawan saya seorang ahli manajemen berkata, “Di dunia manajemen ada suatu motto, yaitu sukses adalah guru yang buruk.” Dalam pengertian, kita cenderung bersandar pada sukses di masa lampau, dan menganggap karena saya sukses dengan cara itu di masa lampau, maka sekarang saya bisa menggunakan cara yang sama, dan di kemudian hari pasti berhasil.

Maka kesuksesan itu bisa menjebak kita, karena cara kita yang dulu belum tentu cocok untuk sekarang atau pun nanti. Maka saya kira kalau kita terbiasa dengan diri kita, dan kita anggap ini sesuatu yang sangat-sangat baik untuk kita, meskipun dampaknya juga baik, kita lebih susah untuk berubah. Ini salah satu hal kenapa berubah itu susah, karena berubah menuntut kita untuk mengakui, bahwa cara kita yang dulu itu kurang efektif, kurang tepat, kurang pas, kurang baik, alias kita mesti memperbaikinya.

Kita adalah makhluk yang tidak senang dipersalahkan, kita tidak senang mengakui bahwa cara kita itu keliru, kita ingin membenarkan diri. Itulah yang kita warisi dari nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Sejak pertama, Adam dan Hawa sudah berkelit dari tanggung jawab mereka, Adam kepada Hawa, Hawa kepada ular. Jadi kita memang makhluk yang ingin benar. Karena kita ingin benar, jadi perubahan menjadi sesuatu yang sulit kita lakukan.

Apakah ada suatu pola atau cara, supaya kita bisa atau mau dengan sungguh-sungguh berubah?

-Paul Gunadi, TELAGA, T108A


Ikuti kelanjutannya…

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂