Belajar

Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan…

“Tidak ada istilah terlampau tua untuk belajar… .” Nasihat baik ini sering kita dengar untuk menyemangati orang agar tak pernah berhenti belajar dalam hidup ini. Dan benar. Tetapi untuk itu perlu sedia belajar.

SEDIA BELAJAR

Belajar itu sebenarnya suatu sikap hidup, pola hidup, atau kemauan, atau apa?
Belajar mempunyai arti yang luas, sebetulnya belajar itu adalah penambahan pengetahuan. Sesuatu yang belum kita ketahui, kemudian kita ketahui setelah melewati proses yang disebut belajar.

Belajar itu tidak harus di sekolah, belajar itu bisa terjadi di mana pun, dan sejak dini seseorang itu harus mulai belajar. Sikap yang baik adalah sikap mau belajar. Untuk bisa hidup sehat kita perlu mempunyai kesediaan untuk belajar.

Belajar yang dimaksud di sini, bukan belajar dalam lingkup akademik, melainkan belajar dalam pengalaman hidup. Apa yang harus kita timba dari peristiwa-peristiwa yang kita hadapi? Apa yang Allah ajarkan yang mesti kita lihat dan kita terima?

Pengertian sehat bukan hanya terbatas pada sehat secara fisik. Sehat di sini adalah sehat secara jiwa, sehat secara rohani. Bila kita bisa mengembangkan sikap bersedia belajar dalam hidup ini, kita akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan lebih baik.

Ketimbang orang yang tidak bersedia belajar dalam hidup ini, karena menganggap yang dia ketahui sudah paling benar, dan tidak ada lagi tempat buat dia bertumbuh atau belajar dari orang lain. Sikap itu akan membenturkan dia dengan tembok-tembok kehidupan ini.

Terus terang sebagian besar kita sebenarnya mau saja belajar, kadang-kadang timbul hasrat yang kuat untuk belajar. Tetapi faktanya dengan berjalannya waktu, itu cuma sekadar cita-cita saja, kok bisa begitu kenapa?

Ada dua sifat dalam belajar yang perlu kita ketahui. Dua sifat ini sebetulnya saling bertentangan. Nah, inilah yang jarang kita perhatikan.

Sifat pertama adalah belajar itu mengisi rasa ingin tahu kita. Kita adalah makhluk rasional, dan sebagai makhluk rasional ingin tahu hal-hal yang belum kita ketahui.

Belajar dalam pengetahuan ini memang memenuhi keingintahuan kita, dan belajar dalam hal ini sesuai dengan kodrat kita, sesuai dengan sifat kita. Tetapi belajar mempunyai sisi yang lain, yang mesti kita pahami.

Sifat kedua adalah belajar itu sebetulnya menuntut perubahan pada diri kita. Maka dikatakan bahwa belajar belum terjadi jika perubahan belum terjadi. Dengan kata lain tujuan belajar ialah perubahan. Baik itu perubahan dalam pemikiran, perasaan, atau perilaku. Contoh, gara-gara kita belajar, maka: sekarang kita tahu bagaimana berelasi dengan orang dengan lebih santun, misalnya; atau kita tahu bahwa angin itu bergerak karena tekanan udara; atau kita tahu bahwa matahari itu sebetulnya berdaya sangat besar sekali, dan kita itu di bumi tempat yang kecil sekali. Jadi perubahan-perubahan itu menyangkut perubahan cara pandang juga menyangkut perubahan perilaku.

Kenapa ini adalah sesuatu yang sukar?
Karena belajar menuntut perubahan, dan perubahan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena perubahan itu mempunyai satu tuntutan, yaitu kita mengubah sesuatu yang telah kita tetapkan untuk diri kita, sesuatu yang kita telah terbiasa, dan untuk mengubah itu biasanya tidak mudah.

Tidak mudahnya itu sering kali menyakitkan kita. Kita merasa sakit untuk berubah, atau kita berpikiran, tidak apa-apa kenapa harus berubah?

Kawan saya seorang ahli manajemen berkata, “Di dunia manajemen ada suatu motto, yaitu sukses adalah guru yang buruk.” Dalam pengertian, kita cenderung bersandar pada sukses di masa lampau, dan menganggap karena saya sukses dengan cara itu di masa lampau, maka sekarang saya bisa menggunakan cara yang sama, dan di kemudian hari pasti berhasil.

Maka kesuksesan itu bisa menjebak kita, karena cara kita yang dulu belum tentu cocok untuk sekarang atau pun nanti. Maka saya kira kalau kita terbiasa dengan diri kita, dan kita anggap ini sesuatu yang sangat-sangat baik untuk kita, meskipun dampaknya juga baik, kita lebih susah untuk berubah. Ini salah satu hal kenapa berubah itu susah, karena berubah menuntut kita untuk mengakui, bahwa cara kita yang dulu itu kurang efektif, kurang tepat, kurang pas, kurang baik, alias kita mesti memperbaikinya.

Kita adalah makhluk yang tidak senang dipersalahkan, kita tidak senang mengakui bahwa cara kita itu keliru, kita ingin membenarkan diri. Itulah yang kita warisi dari nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Sejak pertama, Adam dan Hawa sudah berkelit dari tanggung jawab mereka, Adam kepada Hawa, Hawa kepada ular. Jadi kita memang makhluk yang ingin benar. Karena kita ingin benar, jadi perubahan menjadi sesuatu yang sulit kita lakukan.

Apakah ada suatu pola atau cara, supaya kita bisa atau mau dengan sungguh-sungguh berubah?

-Paul Gunadi, TELAGA, T108A


Ikuti kelanjutannya…

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s