‎The godly walk with integrity; blessed are their children who follow them.

Proverbs 20:7 (NLT)-

Orang yang takut akan Tuhan, jalan dengan integritas;

diberkatilah anak-anaknya yang mengikutinya.

Direct your children onto the right path,
and when they are older, they will not leave it.

-Proverbs 22:6 (NLT)-

Arahkan anak-anakmu ke jalan yang tepat,

dan kala mereka makin dewasa, mereka takkan meninggalkannya.

Thank you for visiting us.


derap langkah KUDA BINAL yang dijinakkan
-a biography of IWAN K. KOSASIH

Kesegaran dan pesan utama tiap kisah dari awal hingga akhir diutamakan untuk Anda nikmati. Silakan menikmati dan diberkati.


SAAT ibadah Minggu selalu ada mobil reklame bioskop lewat di depan GKI Klaten, “Halo, halo, gereja, nanti habis gereja nonton bioskop!” Untuk mengatasinya, rapat Majelis Jemaat memutuskan untuk memasang tanda trompet, dan menugaskan saya, Wahyudi, untuk mengerjakannya.

Kesibukan sebagai pemborong membuat saya lupa menyelesaikan pembuatan trompet yang sudah saya mulai itu. Hingga suatu saat Tuhan menegur saya melalui masalah saya. Sabtu malam itu saya berdoa bertalu-talu dari pukul 22.00 hingga pukul 02.00, minta Tuhan menyelesaikan masalah saya. Tetapi ternyata Tuhan malah menjawabnya dengan bertanya di kalbu, “Wahyudi, mana trompet-Ku?”

Saya terkejut, lho kok malah masalah tugas gereja yang tertunda, disuruh membuat tanda trompet? Saya jadi teringat, dan saya tidak lagi khawatir dengan jawaban untuk masalah saya. Saya ingin fajar segera menyingsing, untuk segera menyelesaikan tugas itu.

Hari Minggu pagi itu, saya segera mencari toko bangunan, membeli segala peralatan untuk pembuatan tanda trompet. Di perjalanan saya menyelesaikan tugas itu, Tuhan mengirimkan orang yang tak pernah saya duga, menemui saya di toko bangunan, untuk menjawab permasalahan saya.

“Pak Wahyudi, saya sudah lama mencari Pak Wahyudi, untuk memberkati Pak Wahyudi tetapi tertunda-tunda. Baru pagi ini saya ingin menyampaikan berkat ini untuk Pak Wahyudi.”

Itu hari Minggu, dan saya harus menyelesaikan masalah keuangan besok pagi di bank, tetapi uang itu masih berupa barang bangunan. Orang itu berkata lagi, “Aku butuh barang bangunanmu, berapa harganya?” Saya sebut harganya. Dia setuju dan langsung membayar, tunai.

Jangan menunda-nunda mengerjakan tugas yang diberikan Tuhan. Selesaikan dulu, baru Tuhan juga pasti menyelesaikan apa yang menjadi beban kita.


Sahabat Iwan Kosasih

21 Oktober 2013


Kita mengalami agar MENGERTI, lalu MENDENGARKAN dengan HATI. Empati.

We are experiencing to get UNDERSTANDING, then using it to LISTEN WITH HEART. Empathy.

Courtesy of Asnath Natar
Courtesy of Asnath Natar


Kala kita bisa MELIHAT dan bukan hanya memandang, itu ANUGERAH-NYA!

When we are able to SEE and not just to look, it is HIS GRACE!

Courtesy of Asnath Natar
Courtesy of Asnath Natar

2012 in review-Thank you WordPress team-Thank you, Lord!-Thanks for visiting us :)

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 1,900 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 3 years to get that many views.

Click here to see the complete report.


I was back from the one-week mission trip in Biak Island, Papua, Indonesia. Two weeks before I was off to Kenya, to attend LittWorld 2012, World Media Training Conference, Brackenhurst. I opened an email from Media Associates International (MAI), reminded me to send my itinerary by 15th October, to ensure my airport transportation to the conference centre.

I asked the Lord to give me His wisdom, and He always brought me back to what I had taught others about faith, in the seminars for parents and teachers in Biak…

Seminar for school teachers and parents at Bosnik-East Biak

“Which one of these three parts of this verse that you love the most?” I looked at the audience, “But seek first His kingdom… and His righteousness,… and all these things will be added to you.”  They looked back at me and with their big smiles, they replied, “The third one.”

“Good, you are honest!” I said, and they laughed.

“But, who is going to add all these things to you?”

“The Lord,” they replied.

“Correct! It is His part. And which one is yours?”

“The part one and two.” I saw their big smiles again.

“Great! So, our part is knowing Him and His word better and closer each day, and… He will do His part: He will add all these things to you.

Through the whole process since the moment I knew that going to LittWorld 2012 is in His plans for my life, the Lord has been working out in me the kind of faith He wanted me to have. He doesn’t allow me to have even the slightest worried or fret. The more I know Him, the more I love Him, the more He wants me to experience His promise, His Word.

Receiving MAI Awards for "May I come in please" from John Maust, the President of MAI

His sweet promises, “Look at the birds. They don’t plant or harvest or store food in barns, for your heavenly Father feeds them. And aren’t you far more valuable to him than they are?” “And if God cares so wonderfully for wildflowers that are here today and thrown into the fire tomorrow, he will certainly care for you. Why do you have so little faith?” Not just so promising and sweet. He wants me to experience that it is true, and He truly meant it!

“So don’t worry about tomorrow, for tomorrow will bring its own worries. Today’s trouble is enough for today.”

Have a peaceful New Year!

– eva kristiaman


He made a sketch of a four-legged table on the white board and asked us, “What are the names of these four legs?” We, the participants in this 3-part financial management workshop at LittWorld 2012, started to answer Tony Wales, global publishing consultant.

“Yes, that’s correct.” Tony wrote it on the board.

“Yes, Editorial, what else?” He wrote the name of another leg.

“Yes, and what else?” He named the third leg.

“But, what is the difference between marketing and distribution?” Someone asked him.

“Marketing is sales. And distribution is how the books go to the readers. And the fourth is…”


“Yes, financial,” wrote Tony, “And what would happen if one of these legs is shorter than the others?” We nodded, looked at the picture, the message was so clear for us.

“How is the financial health of our publishing?” asked Tony. “Just as when we go to the doctor, so there are various checks we can make to assess our financial health. It just needs to be planned into our lives. Jesus commands us to plan, in Luke 14:28-33.”

We read that passage:

“But don’t begin until you count the cost. For who would begin construction of a building without first calculating the cost to see if there is enough money to finish it?  Otherwise, you might complete only the foundation before running out of money, and then everyone would laugh at you.  They would say, ‘There’s the person who started that building and couldn’t afford to finish it!’

“Or what king would go to war against another king without first sitting down with his counselors to discuss whether his army of 10,000 could defeat the 20,000 soldiers marching against him? And if he can’t, he will send a delegation to discuss terms of peace while the enemy is still far away.  So you cannot become my disciple without giving up everything you own.” (NLT)

“We are called to serve the Lord.” Tony said. “Jesus combines the challenge of discipleship with commonsense planning whether a building or a war. There are clear comparison between our call as his disciples to be publishers of the good news and planning to build and to take the battle to the enemy. In every sense we need to plan and to go into action with deliberate care.”

And he continued, “This is why we need to understand how to plan and understand our finances. The same principles apply for us personally as well as the organisation we work with. Or are we careless about our personal finances?”

The class was so quiet as we pondered what he said.

Yes, do we know the cost of doing the job, and do we have a plan for it?

– eva kristiaman, LittWorld 2012,

A Beginner’s Guide to Financial Planning and Management in Publishing (part 1)

Edited by Dawn Herzog Jewell and published on LittWorld Online

Photo (top) courtesy of Eric Gitonga

Permisi, bolehkah aku masuk?

Oleh: Eva Kristiaman dari Indonesia

Hai Teman-Teman Indonesia-ku yang kukasihi,

Aku menulis surat ini karena tampaknya kamu begitu sibuk di dapur, dan tak seorang pun mendengar  ketukan “Tok, Tok”-ku di pintumu.

Aku ingin memberi tahu bahwa aku sangat ingin untuk masuk dan bersantap bersamamu. Aku tahu kamu sangat mengasihiku, dan sedang menyiapkan masakan Indonesia terbaik bagiku. Betul, aku sangat menggemari masakan Indonesia, sangat sedap dan lezat . Menurutku, hingga kini kamu terlalu sibuk mengurusi soal masakannya. Yang terutama buatku adalah relasi yang akrab denganmu. Aku senang bila bisa bercakap-cakap sambil sarapan denganmu tiap pagi.

Jadi, permisi, bolehkah aku masuk? … Tolong buka pintunya, persilakan aku masuk dan tinggal bersamamu. Ijinkan aku melayanimu, aku tuan rumahnya dan kamu tamuku.  Nikmati waktu yang menyenangkan bersamaku, kenallah diriku semakin baik dan semakin dekat. Semakin kamu mengenalku, semakin banyak pemandangan mendalam yang kamu peroleh. Itu akan membuka pikiranmu dan membuka matamu.

Aku tahu hingga kini kamu hafal bahwa “Manusia tidak hidup dari nasi saja, melainkan dari setiap kata yang diucapkan Allah.” Ya, kamu akan menikmati bagaimana menemukan kebenaran. Itu lebih manis dari madu terbaik di Indonesia. Kamu akan amat menggemari masakanku. Kamu akan minum dari air hidup yang kuberikan kepadamu, dan kamu takkan pernah haus lagi.

Aku sangat ingin jadi Sahabat karibmu. Supaya, di hari terakhir nanti aku dapat menyatakan bahwa “Aku kenal kamu.”

Salam kasih,


* Diterjemahkan seijin Media Assosiates International, dari naskah lomba menulis LittWorld 2012, dengan judul asli “May I come in, please…”, yang menerima Runner up honorable mention prize pada tanggal 1 Agustus 2012.

* Tulisan ini menjawab salah satu pertanyaan lomba menulis LittWorld 2012: If Jesus were to write a letter to the church in your country, what would He say?—Bila Yesus menulis surat kepada gereja di negaramu, apa yang akan Dia katakan?


Bagaimana membuat tuntutan sebagai tangan yang menuntun anak maju selangkah demi selangkah?

Ada empat faktor yang harus dipenuhi sebelum memberi tuntutan kepada anak. Ikuti kelanjutannya berikut ini…

Ketiga, harus realistik dan sepadan dengan kemampuannya.
Untuk memacu prestasi, tuntutan yang diberikan seyogyanya sedikit di atas kemampuan anak. Tuntutan yang di bawah atau pas dengan kemampuan anak tidak akan memacunya, karena ia tidak perlu berusaha keras memajukan dirinya. Sebaliknya, tuntutan yang jauh melampaui kemampuan anak, akan mengecilkan semangatnya. Anak mesti melihat bahwa tuntutan yang diberikan kepadanya masih dalam batas kemampuannya. Jika tidak, ia justru tidak akan berkemauan untuk menggapainya.

Saya sering melihat ada dua kesalahan yang umum dilakukan oleh orangtua. Pertama, orangtua menuntut anak menjadi seperti dirinya dan kedua, orang tua menuntut anak menjadi pelengkap kekurangannya. Kesalahan pertama acapkali diperbuat oleh orangtua yang bisa bermain piano dan cenderung menuntut anak bermain piano pula. Masalahnya adalah, tidak selalu anak mewarisi bakat orangtua, dan tidak semua anak yang mempunyai minat yang sama dengan orangtuanya. Kalaupun anak menyukai piano, itupun tidak berarti bahwa ia akan dapat bermain sebaik orangtua. Adakalanya orangtua menuntut anak untuk menjadi semahir dirinya. Sekali lagi problemnya ialah, anak belum tentu memiliki tingkat kepandaian yang sama dengan orangtua.

Kesalahan kedua, acap terjadi pada orangtua yang merasa diri kurang atau ada cacatnya. Anak akhirnya menjadi penyambung kekurangannya, agar keinginannya yang belum tercapai bisa diwujudkan oleh anak. Misalnya jika orangtua berangan-angan menjadi atlet nasional, iapun akan memaksa anak menjadi atlet nasional. Masalahnya adalah, belum tentu anak mempunyai kemampuan untuk itu. Jadi yang penting ialah memahami kemampuan dan minatnya. Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang realistik; tuntutan yang tidak realistik justru akan menciptakan frustasi pada diri anak.

Keempat, harus memberi ruangan untuk gagal.
Pada dasarnya kita adalah orang yang sulit menoleransi kegagalan, karena kegagalan dengan mudah dapat membangkitkan perasaan-perasaan masa lalu kita yang pahit. Kegagalan cenderung mengingatkan kita akan kekurangan-kekurangan yang telah kita coba perbaiki dengan susah payah. Kegagalan anak seringkali mempengaruhi penghargaan diri dan konsep diri orangtua. Kegagalan anak seakan mencoreng konsep dan penghargaan diri yang sebelumnya dimiliki orangtua. Itulah sebabnya tidak mudah bagi orangtua menerima kegagalan anak. Kegagalan mengecewakan hati orangtua karena anak tidak dapat memenuhi tuntutan atau harapannya.

Tuntutan bukanlah dan tidak seharusnya menjadi standar ketidaksempurnaan, karena anak bukanlah anak yang sempurna. Jadi anakpun mesti diberi kemungkinan untuk gagal dalam upayanya memenuhi tuntutan orangtua. Kerelaan orangtua untuk menerima kegagalan anak akan membuatnya rileks, dan sikap rileks ini justru akan membuatnya lebih kreatif. Anak akan dapat mengupayakan prestasinya secara lebih tenang karena tidak dikejar-kejar oleh rasa takut gagal. Anak perlu menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dan konsekuensi dari hidup, serta yang penting adalah bagaimana menerima dan mengoreksi diri, bukan menyangkali atau menyesali diri tanpa kesudahan. Anak harus mengetahui bahwa yang terpenting adalah usahanya, bukan hasil akhirnya, dan bahwa selama ia telah berusaha sebaik mungkin, kegagalan akan diterima dengan lapang dada oleh orangtuanya.

Tuntutan perlu diberikan setelah keempat hal ini kita jalankan. Tanpa kehadiran keempat faktor ini, tuntutan akan menjadi cambuk belaka; membuat anak maju selangkah, namun mengutuki setiap cambukan yang diterimanya. Sebaliknya, keberadaan keempat hal ini akan membuat tuntutan sebagai tangan yang menuntun anak maju selangkah demi selangkah. Saya kira anak akan jauh lebih menyukai tangan daripada cambuk.

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂


Membesarkan anak butuh hikmat, seberapa mengerem dan seberapa mengegasnya, juga kapan mengerem dan kapan mengegasnya…

Sungguh benar kalimat yang diucapkan Paul Gunadi kepada saya di sesi konseling itu, dan hikmat sangat dibutuhkan orangtua dalam menjawab pertanyaan berikut…


Pelajaran pertama dan mungkin terpenting dalam mengendarai sepeda ialah: bagaimana menjaga keseimbangan tubuh kita di atas batang-batang besi beroda dua itu. Saya kira membesarkan anak dapat diibaratkan dengan mengendarai sepeda.

Banyak unsur dalam membesarkan anak yang harus ada secara berimbang: “terlalu banyak” atau “terlalu sedikit” biasanya mengakibatkan dampak yang sama-sama negatifnya. Misalnya terlalu sayang dan terlalu protektif dapat membuat anak lemah serta kurang percaya diri. Sebaliknya kurang kasih sayang bisa juga menjadikan anak lemah dan tidak mempunyai keyakinan diri. Demikian pula tuntutan. Terlalu banyak tuntutan membuat anak tertekan, sebaliknya terlalu sedikit tuntutan menjadikan anak terlena.

Saya tidak setuju dengan falsafah pendidikan anak yang menghilangkan segi tuntutan secara total. Tuntutan merangsang pertumbuhan; tanpa tuntutan, anak berkembang bebas tanpa arah dan berhenti bertumbuh. Tuntutan juga bermetamorfosis dalam diri anak, menjadi motivasi dan disiplin yang sangat berfaedah bagi kehidupannya kelak. Namun tuntutan perlu diberikan dengan hati-hati agar berkhasiat maksimal.

Secara spesifik, tuntutan hanya akan efektif bagi pertumbuhan anak bila diiringi oleh unsur atau kondisi tertentu. Bak menanam padi, kita harus menggemburkan tanah dan mengalirkan air dengan teratur. Benih padi sebaik apapun tidak akan tumbuh di tanah yang tandus. Di bawah ini akan saya paparkan empat prinsip yang harus ada bersama dengan tuntutan, agar tuntutan bisa mencapai hasil yang optimal.

Pertama, harus ada kasih dan penerimaan penuh.

Sebelum tuntutan diberikan, anak perlu mengetahui dan merasakan cinta kasih orangtua yang menerimanya secara total. Maksudnya, anak selayaknyalah memiliki keyakinan bahwa ia tetap dikasihi orangtua meski ia belum tentu mampu meraih standar orangtua. Tanpa keraguan anak dapat berkata bahwa cinta kasih orangtua terhadapnya tidak tergantung apakah ia mendapat nilai 9 atau 5. Sebelum menerima tuntutan, anak perlu menyadari bahwa orangtua telah menerimanya apa adanya atas dasar satu alasan: sebab ia adalah anak yang mereka kasihi.

Sebaliknya tuntutan yang diberikan tanpa landasan kasih dan penerimaan penuh, akan jatuh bagaikan duri yang menusuk kalbu. Tanpa kehadiran kasih dan penerimaan, anak akan cenderung mengaitkan perfoma dengan kasih orangtua. Maksudnya, anak akan berpikir bahwa ia hanya akan dikasihi apabila ia berhasil. Memenuhi tuntutan orangtua, misalnya meraih nilai yang bagus. Juga, tanpa adanya penerimaan dari orangtua, tuntutan akan menjadi dingin dan kehilangan unsur kemanusiaan, sehingga tidak jarang anak akhirnya merespons tuntutan seperti itu dengan penuh kebencian. Anak seolah-olah berseru, “Engkau tak berhak menuntut apapun dariku karena engkau tidak mengasihiku!”

Tuntutan yang didahului kasih dan penerimaan akan dapat memotivasi anak berprestasi. Tuntutan mendorongnya bekerja lebih keras dan ia akan dapat melakukannya dengan tenang karena ia tahu bahwa ia dikasihi. Anak sadar bahwa keberhasilannya mencapai tuntutan itu akan menyenangkan hati orangtua, bukan untuk mendapatkan kasih orangtua.

Kedua, harus ada target yang spesifik.

Tuntutan yang efektif adalah tuntutan yang berorientasi pada target tertentu. Tidak jarang orangtua melakukan kesalahan yang umum terjadi, yakni menuntut anak menjadi “lebih baik, lebih rajin, lebih pintar, berprestasi lebih tinggi,” dan lain sebagainya. Tuntutan dengan target yang terlalu luas akan membuat anak hilang arah dalam mengejar sasarannya. Ia perlu mengerti apa itu yang dituntut orangtua, dengan jelas, agar ia tahu apa itu yang harus dilakukannya.

Mungkin ada di antara kita yang berkata, bukankah target menjadi rajin adalah target yang cukup spesifik dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut? Saya akan memberikan contoh yang berkenaan dengan kehidupan orang dewasa. Pernahkah kita diminta atasan menjadi “lebih giat” bekerja dan kita menjadi bingung dengan permintaannya itu? Kita bingung sebab kita sudah merasa bekerja sebaik-baiknya, dan kita tidak tidak tahu lagi apa yang harus kita kerjakan untuk memenuhi target tersebut. Namun kita akan dapat memahami tuntutan itu dengan lebih jelas, apabila atasan meminta kita menjual produk dua kali lebih banyak, atau menambah jumlah pelanggan tiga kali lipat.

Anak akan lebih memahami tuntutan orangtua, apabila tuntutan itu dijabarkan sespesifik mungkin. Daripada berkata, “lebih rajin dan lebih pintar” mungkin lebih baik kita memintanya menambah jam belajar, atau menyelesaikan tugas sekolahnya sebelum bermain. Daripada menuntutnya, “berprestasi lebih tinggi,” kita bisa menyebut pelajaran tertentu yang mendapat nilai rendah, dan memintanya menghabiskan waktu belajar lebih banyak untuk bidang tersebut. Kita bisa menargetkan supaya pada ulangan berikutnya ia mencoba meraih nilai 7. Saya kira anak akan lebih mampu mencapai hasil yang kita inginkan bila ia tahu jelas apa itu yang harus ia lakukan.

    -Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

    Ikuti kelanjutannya…

    :)Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂


Istri itu butuh dicintai, ingin dicintai, dan mengharapkan dicintai;

banyak suami gagal memenuhi kebutuhan ini.

Suami itu butuh direspek, ingin direspek, dan mengharapkan direspek;

banyak istri gagal memenuhi kebutuhan ini.

Sering kali masalah utama pasangan suami-istri yang datang menemui saya adalah tidak adanya titik temu untuk kedua belah pihak. Suami dan istri, masing-masing mempunyai tuntutan yang tinggi. Istri berkata, “Dia tidak mencintai saya.” Dan dia berusaha untuk mengubah suaminya agar mencintainya dengan cara mengeluh dan mengritik seperti: sering pulang malam, tidak pernah membantu di rumah, tidak memperhatikan anak, tidak membelikan hadiah buat keluarga dll.

Tetapi tidak hanya keluhan sang istri saja yang saya dengar, sang suami juga. Umumnya pihak suami tidak berbicara banyak tapi lebih banyak berpikir. Seringkali jika suami tersebut ditanya, ”Apakah istrimu mencintaimu?” jawabnya, “Oh, ya tentu!” Ketika ditanya, “Apakah istrimu menyukaimu?” Jawabannya, “No”. Biasanya kata “menyukai” ini diterjemahkan tidak menghormati oleh suami. Dulu waktu pacaran dilihat sebagai “hero”, sekarang kok berubah! Sang suami mulai berusaha untuk mengubah istrinya, dengan memotivasi agar lebih menghormati suami, dengan cara mengurangi perhatian dan cintanya.

Dari problem ini kita dapat melihat bagaimana terjadinya lingkaran yang menghubungkan antara: “tanpa cinta dari suami membuat istri tidak respek”, dan “tanpa respek dari istri membuat suami tidak mencintai”, demikian seterusnya menjadi lingkaran tanpa akhir.

Jika suami dan istri dapat berkomitmen pada kebutuhan utama pasangannya yaitu: unconditional love for her and unconditional respect for him, maka mereka akan memulai langkah yang tepat untuk mengubah lingkaran negatif tersebut menjadi lingkaran positif. Hal ini tidak mudah dan tidak dapat berubah begitu saja tanpa kemauan/usaha dan kesabaran, karena kita akan terus beresiko kembali pada lingkaran negatif tersebut. Selama 25 tahun perkawinan, saya masih terus harus berusaha untuk mengontrol lingkaran ini.

Masalah utama dalam lingkaran negatif ini adalah tidak adanya komunikasi yang baik. Kedua belah pihak tidak tahu bagaimana cara mengirim dan menerima pesan. “apa yang saya katakan, tidak sama dengan yang kamu dengar” dan “apa yang kamu mengerti, tidak sama dengan yang saya maksud”.

Dalam bukunya, Love and Respect, Dr.Emerson Eggerichs, memberikan tips kepada suami istri, beberapa di antaranya:

  1. Selalu bertanya kepada dirimu:

(Suami): Apakah yang akan saya katakan kepadanya akan membuat dia merasa tidak dicintai?

(Istri): Apakah yang akan saya katakan kepadanya akan membuat dia merasa tidak direspek?

  1. Hal-hal yang harus diingat:

(Suami): Pada saat istri Anda mengritik atau marah, sebenarnya yang dia harapkan adalah cinta dari Anda, dan sesungguhnya dia tidak bermaksud untuk tidak respek pada Anda.

(Istri): Pada saat suami Anda marah dan kasar, sebenarnya dia membutuhkan respek dari Anda, dan dia tidak bermaksud tidak mencintai.

(Suami): Cara terbaik untuk memotivasi istri Anda adalah dengan memenuhi kebutuhannya akan cinta.

(Istri): Cara terbaik untuk memotivasi suami Anda adalah dengan memenuhi kebutuhannya akan respek.

  1. Hal yang harus diperhatikan dalam mengkomunikasikan perasaan Anda dan memulai diskusi:

(Istri): Jangan pernah berkata, “Kamu tidak mencintai saya”, tetapi katakanlah, “Saya merasa kurang dicintai, apakah saya telah menimbulkan perasaan tidak respek kepadamu?, jika ya, maafkan saya. Bagaimana agar saya dapat lebih respek kepadamu?”

(Suami): Jangan pernah berkata, ”Kamu tidak respek pada saya”, tetapi katakanlah, “Saya merasa kurang direspek, Apakah saya kurang mencintai? Jika ya, maafkan saya, Bagaimana agar saya dapat lebih mencintaimu?”

  1. Larangan:

(Suami): Jangan pernah berkata, “Saya tidak akan mencintai wanita itu sampai dia mulai respek terhadap saya.”

(Istri): Jangan pernah berkata, “Saya tidak akan respek pada pria itu sampai dia mulai mencintai saya.”

Mengerti bahwa kebutuhan utama istri Anda adalah dicintai, dan kebutuhan utama suami Anda adalah direspek, dan memberikannya, itulah kunci menuju kehidupan pernikahan yang lebih harmonis dan bahagia.

-Lina Efendi, M.Couns

PACFA Reg.Provisional

%d bloggers like this: