TELADAN

Awasi dirimu dan ajaranmu…

Nasihat bijak ini sangat efektif menolong saya menjaga diri: ajaran saya adalah hidup saya, dan hidup saya adalah ajaran saya. Metode mengajar yang terbukti terbaik: ajaran saya sama dengan hidup saya. Kunci utama keteladanan adalah rendah hati.

RENDAH HATI

Tanggung jawab belajar itu diberikan kembali kepada orang-orangnya, sehingga terjadilah perubahan yang diinginkan.

Salah satu contoh yang saya juga sering lihat pada perusahaan-perusahaan yang besar, yang profesional, yang dilakukan adalah: saham dijual kepada para karyawan, sehingga mereka tidak lagi menjadi karyawan meskipun status tetap karyawan, tetapi mereka adalah pemilik karena mereka adalah pemegang saham. Dengan kata lain ini bukan perusahaan Anda, ini perusahaan kita bersama. Nah, waktu orang menyadari ini adalah perusahaan kita bersama, maka dia akan lebih termotivasi berubah, artinya memberi semaksimal mungkin.

Jadi kita bisa terapkan ini dalam segala hal. Contoh yang lebih klasik: kadang-kadang kita tidak begitu nyaman dengan perdebatan atau pertanyaan. Kita kadang-kadang cenderung untuk menggariskan dengan kaku: inilah jalurnya, di luar jalur ini berarti engkau sesat, di luar jalur ini berarti engkau memberontak kepada Allah dan sebagainya. Nah, orang-orang itu tidak akan belajar, tidak akan melakukan perubahan-perubahan yang diminta oleh Allah, juga karena memang tidak pernah mempunyai tanggung jawab untuk itu.

Kedua, kalau kita sendiri mau belajar. Memang harus ada kesadaran bahwa kita perlu dan harus berubah. Jadi dalam diri sendiri memang harus ada kesadaran itu. Kalau kita sudah mempunyai sikap saya tak perlu, dan saya tidak usah berubah atau belajar, tidak mungkin kita belajar. Maka dapat dikatakan bahwa orang yang belajar, adalah orang yang rendah hati.

Kadang-kadang ini yang kita temukan, ada orang yang seolah-olah belajar, tetapi sesungguhnya dia hanyalah mengumpulkan data untuk mengkonfirmasikan pendiriannya. Dia tidak bersedia belajar hal yang berlawanan dengan pendiriannya, atau keyakinannya, dia selalu hanya mengumpulkan informasi-informasi yang hanya mendukung keyakinannya itu. Orang ini hanya akan berkembang secara sempit, tidak akan luas.

Orang yang luas adalah orang yang bersedia belajar dari segala pihak. Kalau saya terapkan dalam konteks keluarga: Bukankah kalau kita sudah mengembangkan praduga atau konsep bahwa pasangan kita ini orangnya tidak sensitif misalnya, kita cenderung mencari data-data tambahan untuk mengkonfirmasi bahwa dia orangnya tidak sensitif. Dengan kata lain, hal-hal lain yang bisa mendukung bahwa dia itu sebetulnya bisa baik, bisa sensitif, itu cenderung tidak kita sampaikan, yang kita fokuskan adalah dia ini orangnya kurang sensitif. Data-data yang mendukung itulah yang kita lebih perhatikan.

Ketiga, belajar itu berkaitan dengan kebutuhan kita. Kalau memang kita mempunyai kebutuhan untuk hal tersebut, kita lebih terbuka untuk mempelajarinya. Kalau kita tidak merasakan kebutuhan itu, kita tidak terbuka untuk belajar.

Keempat, ada satu faktor yang juga bisa menstimulasi kita untuk belajar, yakni kita bukannya digerakkan oleh kebutuhan, tetapi digerakkan oleh inspirasi. Untuk kita bisa berubah, kita mesti melihat yang mendidik kita, atau yang mengajar kita, telah memberikan contoh hidup. Contoh hidup yang langsung itu bisa menjadi inspirasi buat kita.

Mendiang Ibu Theresa tidak akan sukses pergi ke mana-mana untuk mengajak orang-orang terlibat pelayanan terhadap kaum papa di India, kalau dia sendiri tidak terlibat di situ. Jadi seorang Ibu Theresa lah yang baru bisa mendorong orang-orang untuk terlibat dalam pelayanan kaum miskin. Kalau dia hidup dalam kekayaan, tidak pernah bersentuhan dengan orang miskin, kemudian terus mendorong orang-orang terlibat dalam pelayanan seperti itu, dia tidak akan berhasil.

Jadi diperlukan contoh. Contoh di mana orang itu bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Inspirasi seperti itulah yang akan membakar orang untuk bertindak sesuai dengan si pengajar itu.

Memang kita sejak kecil terbiasa belajar dengan melihat, itu jauh lebih gampang daripada cuma dengar kata-kata. Kita melihat sehingga kita lebih tahu, lebih jelas dan kita tahu ini bisa dilakukan, namun yang penting juga adalah inspirasi itu. Maka siapa yang hendak menjadi pendidik harus menjadi pelaku dari ajarannya itu. Kalau orang hanya mendengar tetapi tidak melakukan, dia seperti orang yang bercermin kemudian dia tinggalkan cerminnya, dia lupa wajahnya bagaimana.

Terutama di dalam rumah sendiri, di mana anak-anak kita itu melihat kita sehari-hari. Untuk mendorong mereka belajar, yang diperlukan bukan cuma menciptakan kondisi yang kondisif di rumah, tetapi mereka juga butuh keteladanan kita sebagai orang tua.

-Paul Gunadi, TELAGA, T108A

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

Advertisements

Berubah

Aku berubah, sungguh ku berubah…

Penggalan lirik lagu itu mengungkapkan kebenaran bahwa perubahan itu berawal dari diriku. Ada sebuah prinsip sederhana yang saya miliki dan selalu berhasil: bila aku ingin orang lain atau situasi berubah, perubahan itu harus mulai dari diriku. Cobalah dan buktikan, dan untuk itu kita perlu berani berubah.

BERANI BERUBAH

Ada beberapa hal yang memudahkan terjadinya proses belajar, dalam pengertian untuk menolong kita berani berubah.

Pertama adalah lingkungan di mana kita belajar mesti kondusif. Maksudnya, lingkungan itu dapat mengembalikan tanggung jawab belajar kepada si individu.

Kadang kala dalam suasana belajar yang kita jalani, kita tidak mempunyai kebebasan. Karena kita tidak mempunyai kebebasan, maka kita cenderung mengikuti apa yang telah digariskan. Mengikuti apa yang telah digariskan sebetulnya bukan belajar, itu hanyalah tranfer informasi dari satu orang kepada orang yang lainnya. Sedangkan tujuan belajar itu sendiri tidak tercapai, prosesnya memang terjalin, yaitu proses penambahan ilmu atau pengetahuan. Tetapi tujuan akhir belajar yaitu perubahan, tidak terjadi, karena apa? Orang tersebut tidak diberi kebebasan untuk berpikir, untuk bertanya.

Contoh: Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bertanya kenapa kemalangan menimpa saya, apa salah saya, seberapa besar dosa saya?

Jadi kalau kita diberikan kesempatan untuk berpikir, untuk bertanya, belajar menjadi tanggung jawab kita. Kalau kita tidak diberikan kesempatan untuk berpikir atau pun bertanya, kita tidak lagi belajar, sebab tanggung jawab belajar itu menjadi tidak ada pada diri kita, melainkan pada si pendidiknya.

Jadi penting sekali kita mengalihkan tanggung jawab itu kepada si anak didik, bahwa ini yang engkau harus cari, atau harus engkau temukan. Dan saya kira ini yang penting supaya kita bisa belajar dengan wajar, sehingga kita lebih mudah berubah.

Contoh lain yang sering kali terjadi, yaitu banyak anak-anak yang susah dewasa karena keputusan-keputusan sudah diambilkan oleh orang tuanya, sudah digariskan oleh orang tuanya. Hidup itu benar-benar tidak lagi mempunyai tuntutan untuk memilih, untuk berpikir, untuk memutuskan, karena hidup itu sudah ditetapkan oleh orang tua. Nah, si anak tidak bisa berubah, atau susah sekali untuk berubah, karena apa? Dia tidak pernah memikul tanggung jawab itu untuk belajar.

Jadi sekali lagi, untuk bisa kita menciptakan suasana belajar, kita perlu menciptakan situasi yang bebas sehingga orang bisa merdeka untuk berpikir dan untuk bertanya.

Kadang-kadang waktu dan kesempatan itu sebenarnya ada, hanya kita juga punya kecenderungan untuk mengambil jalan pintasnya supaya cepat. Contoh: seperti anak itu, tadinya kita beri kesempatan tetapi lama sekali memutuskan. Lalu kita sebagai orang tua, atau anak pun juga berkata untuk mengambil jalan pintas. “Terserah Papa”, atau sebaliknya kita sebagai orang tua, “Mengikuti saya sajalah, pasti betul.”

Jalan pintas, memang memberi kita solusi, tetapi kita lupa bahwa solusi itu sementara bukan permanen. Yang lebih baik adalah melimpahkan tanggung jawab itu kepada si anak. Ini bisa kita terapkan dalam segala relasi sebetulnya.

 -Paul Gunadi,TELAGA, T108A

Ikuti kelanjutannya…

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂

Belajar

Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan…

“Tidak ada istilah terlampau tua untuk belajar… .” Nasihat baik ini sering kita dengar untuk menyemangati orang agar tak pernah berhenti belajar dalam hidup ini. Dan benar. Tetapi untuk itu perlu sedia belajar.

SEDIA BELAJAR

Belajar itu sebenarnya suatu sikap hidup, pola hidup, atau kemauan, atau apa?
Belajar mempunyai arti yang luas, sebetulnya belajar itu adalah penambahan pengetahuan. Sesuatu yang belum kita ketahui, kemudian kita ketahui setelah melewati proses yang disebut belajar.

Belajar itu tidak harus di sekolah, belajar itu bisa terjadi di mana pun, dan sejak dini seseorang itu harus mulai belajar. Sikap yang baik adalah sikap mau belajar. Untuk bisa hidup sehat kita perlu mempunyai kesediaan untuk belajar.

Belajar yang dimaksud di sini, bukan belajar dalam lingkup akademik, melainkan belajar dalam pengalaman hidup. Apa yang harus kita timba dari peristiwa-peristiwa yang kita hadapi? Apa yang Allah ajarkan yang mesti kita lihat dan kita terima?

Pengertian sehat bukan hanya terbatas pada sehat secara fisik. Sehat di sini adalah sehat secara jiwa, sehat secara rohani. Bila kita bisa mengembangkan sikap bersedia belajar dalam hidup ini, kita akan bisa mengarungi kehidupan ini dengan lebih baik.

Ketimbang orang yang tidak bersedia belajar dalam hidup ini, karena menganggap yang dia ketahui sudah paling benar, dan tidak ada lagi tempat buat dia bertumbuh atau belajar dari orang lain. Sikap itu akan membenturkan dia dengan tembok-tembok kehidupan ini.

Terus terang sebagian besar kita sebenarnya mau saja belajar, kadang-kadang timbul hasrat yang kuat untuk belajar. Tetapi faktanya dengan berjalannya waktu, itu cuma sekadar cita-cita saja, kok bisa begitu kenapa?

Ada dua sifat dalam belajar yang perlu kita ketahui. Dua sifat ini sebetulnya saling bertentangan. Nah, inilah yang jarang kita perhatikan.

Sifat pertama adalah belajar itu mengisi rasa ingin tahu kita. Kita adalah makhluk rasional, dan sebagai makhluk rasional ingin tahu hal-hal yang belum kita ketahui.

Belajar dalam pengetahuan ini memang memenuhi keingintahuan kita, dan belajar dalam hal ini sesuai dengan kodrat kita, sesuai dengan sifat kita. Tetapi belajar mempunyai sisi yang lain, yang mesti kita pahami.

Sifat kedua adalah belajar itu sebetulnya menuntut perubahan pada diri kita. Maka dikatakan bahwa belajar belum terjadi jika perubahan belum terjadi. Dengan kata lain tujuan belajar ialah perubahan. Baik itu perubahan dalam pemikiran, perasaan, atau perilaku. Contoh, gara-gara kita belajar, maka: sekarang kita tahu bagaimana berelasi dengan orang dengan lebih santun, misalnya; atau kita tahu bahwa angin itu bergerak karena tekanan udara; atau kita tahu bahwa matahari itu sebetulnya berdaya sangat besar sekali, dan kita itu di bumi tempat yang kecil sekali. Jadi perubahan-perubahan itu menyangkut perubahan cara pandang juga menyangkut perubahan perilaku.

Kenapa ini adalah sesuatu yang sukar?
Karena belajar menuntut perubahan, dan perubahan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena perubahan itu mempunyai satu tuntutan, yaitu kita mengubah sesuatu yang telah kita tetapkan untuk diri kita, sesuatu yang kita telah terbiasa, dan untuk mengubah itu biasanya tidak mudah.

Tidak mudahnya itu sering kali menyakitkan kita. Kita merasa sakit untuk berubah, atau kita berpikiran, tidak apa-apa kenapa harus berubah?

Kawan saya seorang ahli manajemen berkata, “Di dunia manajemen ada suatu motto, yaitu sukses adalah guru yang buruk.” Dalam pengertian, kita cenderung bersandar pada sukses di masa lampau, dan menganggap karena saya sukses dengan cara itu di masa lampau, maka sekarang saya bisa menggunakan cara yang sama, dan di kemudian hari pasti berhasil.

Maka kesuksesan itu bisa menjebak kita, karena cara kita yang dulu belum tentu cocok untuk sekarang atau pun nanti. Maka saya kira kalau kita terbiasa dengan diri kita, dan kita anggap ini sesuatu yang sangat-sangat baik untuk kita, meskipun dampaknya juga baik, kita lebih susah untuk berubah. Ini salah satu hal kenapa berubah itu susah, karena berubah menuntut kita untuk mengakui, bahwa cara kita yang dulu itu kurang efektif, kurang tepat, kurang pas, kurang baik, alias kita mesti memperbaikinya.

Kita adalah makhluk yang tidak senang dipersalahkan, kita tidak senang mengakui bahwa cara kita itu keliru, kita ingin membenarkan diri. Itulah yang kita warisi dari nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Sejak pertama, Adam dan Hawa sudah berkelit dari tanggung jawab mereka, Adam kepada Hawa, Hawa kepada ular. Jadi kita memang makhluk yang ingin benar. Karena kita ingin benar, jadi perubahan menjadi sesuatu yang sulit kita lakukan.

Apakah ada suatu pola atau cara, supaya kita bisa atau mau dengan sungguh-sungguh berubah?

-Paul Gunadi, TELAGA, T108A


Ikuti kelanjutannya…

🙂 Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman 🙂