MENILAI DAN MENGASIHI

Bagaimana kita bisa mengasihi… bila kita tidak melihat diri dengan jelas, dan melihat orang yang kita kasihi dengan jelas pula?

Menghakimi orang lain adalah tanda bahwa ada balok yang menutupi di mata kita, yang menghalangi kita agar dapat mengeluarkan selumbar dari mata orang yang kita kasihi. Penilaian kita tidak tepat…

BALOK dan SELUMBAR

Apakah penilaian yang tidak tepat terhadap diri sendiri akan mempengaruhi relasi nikah kita? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah, ya. Ternyata pandangan dan perlakuan kita terhadap diri sendiri mempengaruhi pandangan dan perlakuan kita terhadap pasangan, juga anak.

Di bawah ini akan saya paparkan beberapa pandangan dan perlakuan terhadap diri dan dampaknya pada keluarga.

Raja dan Hulubalang

Ada sebagian dari kita yang dibesarkan “tanpa orangtua”; mungkin ada orangtua namun mereka terlalu sibuk untuk bisa meluangkan waktu di rumah. Atau, orangtua sangat memanjakan kita sehingga apa pun yang kita inginkan, pasti dituruti. Akibatnya kita bertumbuh besar sendiri tanpa pengawasan dan arahan mereka; bak banteng liar, kita siap menyeruduk siapa dan apa saja yang menghalangi langkah kita. Kita adalah pusat kehidupan dan orang lain hanyalah obyek untuk kita manfaatkan. Kita adalah raja yang dikelilingi oleh hulubalang yang harus siap menjalankan perintah kita.

Di dalam pernikahan, kita cenderung mempertahankan peran yang sama—sebagai  raja—dan kita menuntut pasangan kita untuk berfungsi sebagai hulubalang. Kita tidak mengenal dan tidak mengizinkan adanya kompromi, sebab semua harus berjalan sesuai dengan kehendak kita. Kita pun tidak mudah mengakui kesalahan, sebab kesalahan berarti kelemahan, dan kelemahan berarti kita dapat “diserang” oleh pasangan. Mengakui kesalahan, berarti kita menjadi perdana menteri, bukan raja, dan ini adalah keadaan yang tidak kita inginkan terjadi. Kita senantiasa harus tampil sempurna, dan tidak ada seorang pun yang boleh menuntut apa pun dari kita. Tuntutan berarti ada yang kurang pada diri kita, dan ini tidak akan kita biarkan. Itu sebabnya dalam relasi nikah model “raja dan hulubalang”, komunikasi antara suami-istri biasanya berkisar dari buruk sampai tidak ada sama sekali.

Buruh dan Mandor

Ada sebagian dari kita yang dibesarkan oleh orang tua yang sangat kritis dan dingin. Hampir tidak ada satu hal pun yang benar pada diri kita; selalu saja ada kekurangan yang dapat diketemukannya. Sebaik apa pun karya yang kita hasilkan, selalu akan ada cacatnya dan jangan kita berharap untuk menerima pujian. Pujian hanyalah untuk anak lain—orang lain—bukan  kita. Alhasil, kita hidup dibayangi oleh ketakutan bahwa kita akan melakukan kesalahan, dan kesalahan berarti teguran, dan teguran mendukakan hati, karena teguran mengingatkan sekaligus meneguhkan rasa bahwa kita tidak cukup baik—bahkan tidak cukup baik untuk hidup. Kita bisa berusaha keras memperbaiki diri, seakan-akan tidak ada cukupnya bagi kita untuk meningkatkan diri. Kita adalah buruh yang senantiasa bekerja tanpa henti di bawah pengawasan seorang mandor yang galak. Kita menjadi letih namun tidak bisa beristirahat sejenak pun.

Di dalam pernikahan, kita menganggap diri tidak cukup baik untuk menikah dengan pasangan kita. Kita akan berupaya keras menciptakan rumah seindah, setenteram, dan sebersih mungkin. Kita ingin memberikan yang terbaik dan hanya yang terbaik bagi pasangan kita. Kita takut kalau-kalau pasangan menemukan kelemahan pada diri kita, dan biasanya tidak mudah bagi kita mendengarkan “masukan” darinya, sebab masukan berarti ketidaksempurnaan, dan itu berarti ketidakpuasan—hal yang paling kita takuti. Ketidakpuasan adalah monster yang mengejar kita, dan darinyalah kita berupaya lari sejauh mungkin. Ketidakpuasan berarti kita tidak cukup baik untuk dikasihi, diterima, dan dihargai.

Terhadap anak kita cenderung mengulang perlakuan orang tua; kita pun menuntutnya untuk berprestasi dan berperilaku sebaik mungkin. Kita khawatir kalau-kalau orang lain mendapati bahwa anak kita bermasalah, sebab itu berarti sebagai orang tua kita telah gagal. Seperti orang tua kita dulu, sekarang pun kita menuntut anak untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Kita tidak memberinya ruang untuk keliru atau gagal. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita berharap anak kita akan menjadi lebih baik daripada kita—dulu dan sekarang. Pada akhirnya, kita menjadi mandor dan anak pun menjadi buruh.

-Paul Gunadi, TELAGA, Eunike

 

Ikuti kelanjutannya…

:) Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s