Memilih Lari Itu Pemberani!

Hidup itu adalah sebuah pilihan…

Sejak bangun tidur kala fajar merekah hingga kembali ke peraduan di larut malam, kita hidup dari pilihan ke pilihan… termasuk berani memilih atau tidak berani memilih… juga memilih berani atau memilih tidak berani…

Aku jadi ingat dua kisah nyata, tentang dua tokoh istimewa dalam sejarah. Keduanya adalah orang yang berkenan di hati Allah, keduanya sangat dikasihi Allah, keduanya bahkan orang pilihan Allah. Menjatuhkan pilihan di momen yang menggoda… telah membuat mereka begitu berbeda…

Yusuf yang muda dan tampan, budak belian yang mendapat kedudukan yang baik di rumah Potifar di Mesir. Satu hari isteri Potifar merayu Yusuf dan menawarkan dirinya, tetapi Yusuf memilih lari… memilih takut akan Allah lebih dari pada takut pada ancaman Nyonya tempat dia bekerja. Fitnahan isteri Potifar membuat Yusuf dipenjarakan oleh Potifar, tanpa diadili dan tanpa kesempatan membela diri, dikarenakan pilihannya untuk lari itu…

Dibutuhkan keberanian untuk bisa lari dari yang jahat…

“berani” sering kali hanya dikonotasikan dengan “berani menghadapi”, dan tak terpikirkan sama sekali, bahwa pengambilan keputusan “melarikan diri dari yang jahat” itu, hanya pemberani sejati yang bisa.

Dari dulu hingga sekarang, tekanan untuk ikutan melakukan sesuatu yang jahat, tetap sama. Dibilang “pengecut” bila tak ikut. Padahal butuh keberanian luar biasa untuk bisa memilih “lari”.

Raja Daud terkenal elok parasnya dan pahlawan gagah berani. Saat dia santai di atas sotoh istananya, dia tergoda oleh keelokan Batsyeba, isteri prajurit setianya. Daud memilih ikut… dan jatuh tergoda untuk merebut dan memilikinya. Daud berhasil.

Apa sulitnya bagi seorang raja besar menyingkirkan dan membunuh Uria, suami Batsyeba, di medan perang dengan tipu-daya dan kelicikan untuk menutupi perbuatannya, menghalalkan segala cara. Mudah sekali. Namun Allah Mahakudus dan Mahatahu menyingkapkan yang terselubung, Dia menegur, menyadarkan dan menghukum Daud.

Syukur, Daud mendengarkan teguran, mengaku dosa, mohon ampun dan bertobat. Berbagai bentuk hukuman Allah diterimanya, dan sejak itu pula pedang tak pernah menyingkir dari keturunannya.

Orangtua perlu mengajarkan kepada anak tahu membedakan: kapan perlu berani menghadapi tantangan dan tidak gampang menyerah… dan kapan memilih berani lari dari yang jahat. Dosa itu warna-warni, sedap dan menarik tampilannya… bila kamu suka makan coklat… maka si jahat itu akan memberimu coklat terenak di dunia… namun beracun! Mau? Ya, ajarkan dan tanamkan itu sedini mungkin pada anak Anda.

:) Pesan bagi Pembaca: Setiap pertanyaan atau tanggapan Anda, dihargai. Terima kasih dan salam hangat dari eva kristiaman🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s